Logo Bloomberg Technoz

Emiten tambang kongsi grup Salim dan Nirwan Bakrie itu menjual 21.091 oz emas pada semester I-2026, turun 45,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 38.993 oz.

Sementara itu, penjualan perak sepanjang paruh pertama tahun ini melorot ke 44.258 oz, minus 59% dibandingkan dengan posisi tahun lalu sebesar 109.728 oz.

Hanya saja, penjualan emas dan perak pada kuartal II masing-masing hanya 6.301 oz dan 3.215 oz. Penjualan yang anjlok pada tiga bulan terakhir memperlihatkan kendala perseroan untuk menawarkan persediaan emas dan perak mereka ke pasar domestik belakangan.

Situasi itu terjadi di tengah operasi pushback atau pengupasan lapisan penutup tambang River Reef di Pobaya yang telah menekan produksi emas dan perak BRMS sejak awal tahun.

Pengupasan lapisan penutup tambang atau stripping itu menjadi bagian dari kegiatan mining sequencing untuk menjangkau bijih mineral yang lebih dalam.

“Kami yakin untuk dapat mengatasi kendala dan tantangan yang ada saat ini,” kata Direktur Utama & CEO BRMS Agoes Projosasmito lewat siaran pers, Senin (3/8/2026).

Agoes memperkirakan kinerja produksi dan keuangan BRMS bakal membaik pada paruh kedua tahun ini.

“Kami juga masih sesuai skedul untuk menyelesaikan peningkatan kapasitas di salah satu pabrik kami dari 500 menjadi 2.000 ton bijih per hari pada akhir tahun ini,” kata Agoes.

Di sisi lain, Agoes menargetkan, perseroan dapat mulai menambang bijih-bijih emas berkadar tinggi 3,5 g/t sampai 4,9 g/t dari tambang bawah tanah pada semester II-2027.

Belakangan, BRMS menandatangani perjanjian dengan PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM pada akhir Juni 2026 untuk menjual sebagian besar produksi emasnya. Perjanjian itu akan berlaku sampai Juni 2028.

Laba Tergerus

Kendala BRMS untuk menjual emas dan perak itu juga terlihat dari persediaan bijih, dore bullion dan barang jadi yang meningkat sepanjang tahun ini.

Mengutip laporan keuangan BRMS, jumlah persedian perseroan meningkat menjadi US$37,16 juta sepanjang semester I-2026, naik 83,5% dibandingkan persediaan periode yang sama tahun lalu sekitar US$20,25 juta.

Sebagian besar persediaan itu berkaitan dengan stok bijih sebesar US$22,78 juta, bahan pembantu US$8,13 juta dan dore bullion sekitar US$2,94 juta.

Sementara itu, stok barang jadi emas dan perak masing-masing US$3,09 juta dan US$207.430.

Situasi itu langsung tercermin dari penjualan BRMS yang merosot ke level US$95,79 juta atau turun 20,7% dari posisi tahun sebelumnya sebesar US$120,84 juta.

Sebagian besar penjualan emas BRMS dibawa ke PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dan PT Swarnim Murni Mulia. Porsi kecil produksi emas dijual ke PT Simba Jaya Utama, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Lotus Lingga Pratama.

BRMS mencatat laba bersih US$12,92 juta per Juni 2026, turun hampir separuh dari torehan laba bersih periode yang sama tahun lalu sekitar US$22,97 juta.

Hanya saja, BRMS mulai mencatat kenaikan liabilitas relatif tajam pada periode Januari-Juni 2026 seiring dengan kenaikan pinjaman jangka panjang menjadi US$264,1 juta.

Kredit jumbo ini berasal dari fasilitas pinjaman sindikasi dengan Bangkok Bank Public Company Ltd, PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mega Tbk (MEGA).

Manajemen telah menarik sekitar US$108 juta dari pinjaman sindikasi itu untuk menutup belanja modal ekspansi perusahaan sampai paruh pertama tahun ini. Apalagi arus kas neto operasi BRMS berbalik negatif US$26,54 juta kali ini.

Kendati demikian, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) tetap menyematkan pandangan positif untuk BRMS. BRIDS menaikkan estimasi full year 2026-full year 2028 sebesar 11%-31% dan meningkatkan target harga berbasis sum-of-the-parts (SOTP) menjadi Rp1.100.

Analis BRIDS Andhika Audrey menerangkan target harga itu berdasar pada ekspektasi normalisasi kadar emas dari Citra Palu Mineral (CPM) setelah penyelesaian pushback tambang terbuka River Reef.

“Berdasarkan valuasi SOTP kami, total enterprise value (EV) diperkirakan mencapai US$9,1 miliar, dengan Gorontalo Mineral dan CPM masing-masing menyumbang 45% dan 30% dari nilai tersebut,” dikutip dari riset Andhika.

Di sisi lain, kata Andhika, peningkatan kapasitas pabrik CIL pertama milik CPM dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari ditargetkan selesai pada Oktober 2026.

Proyek ini menjadi fondasi bagi target produksi emas FY26F sekitar 80 ribu ons (koz) dari manajemen. Sementara itu, estimasi produksi BRIDS sampai akhir tahun sekitar 77 ribu ons.

“Dalam jangka menengah, pengembangan tambang bawah tanah CM tetap berjalan sesuai rencana. Bijih berkadar tinggi sebesar 3,5–4,9 gram/ton diperkirakan mulai ditambang pada 3Q27F,” kata dia.

(naw)

No more pages