Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memperkirakan rupiah berpotensi bergerak melemah di rentang Rp18.000-Rp18.200/US$, sebelum akhirnya membuat BI mengambil langkah intervensi terbatas untuk menjaga rupiah di kisaran Rp17.800-Rp18.000/US$.
Di sisi lain, yield Surat Utang Negara (SUN) juga bertahan di level tinggi. Yield tenor acuan naik 1,8 basis poin (bps) menjadi 7,39%. Sementara tenor 1 tahun naik 5,2 bps menjadi 7,1%.
Dalam kondisi ini, investor akan cenderung mengurangi eksposur terhadap instrumen berdurasi panjang dan kemungkinan akan beralih ke aset yang lebih likuid. Seperti tenor pendek seperti seri SPNS yang diperkirakan jadi pilihan karena risiko durasi yang lebih rendah.
Selain itu, investor juga diperkirakan akan meminta yield yang lebih tinggi untuk mengganjar risiko dan ketidakpastian dalam memegang aset Indonesia. Hal ini juga berpotensi mengerek nilai rata-rata yield yang dimenangkan.
Sebagai catatan, meski mengalami peningkatan minat, lelang sebelumnya tidak sepenuhnya diikuti penurunan yield. Hanya PBS030 (tenor 2 tahun) yang mengalami penurunan yield sekitar 3,7 basis poin (bps), sedangkan PBS040 (tenor 4 tahun) justru mencatat kenaikan 1,9 bps menjadi 7,24% dan PBS034 (tenor 13 tahun) naik 6,9 bps menjadi 7,3%.
Berikut data lelang sukuk yang digelar hari ini:
(dsp/aji)




























