Logo Bloomberg Technoz

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp17,72 triliun dari sejumlah 37,91 miliar saham yang ditransaksikan. Dengan frekuensi menyentuh 2,25 juta kali diperjualbelikan.

Tercatat hanya ada penguatan 104 saham, dan sebanyak–banyaknya 587 saham terjadi pelemahan. Sisanya 105 saham stagnan.

Adapun saham konsumen non primer, saham barang baku, dan saham energi menjadi yang melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 3,37%, 2,2% dan 2,14%.

Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG sepanjang perdagangan hari ini, ditambah lagi pelemahan saham BMRI, saham AMMN, hingga saham BREN yang amat dalam. Saham konsumen non primer, saham barang baku, dan saham energi melemah masing–masing 3,04%, 3,01% dan juga 2,81%.

Saham–saham big caps pemberat IHSG hingga menempati top losers.

  1. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengurangi 20,52 poin
  2. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 7,62 poin
  3. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengurangi 4,43 poin
  4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengurangi 4,4 poin
  5. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 3,74 poin
  6. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengurangi 3,51 poin
  7. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 3,5 poin
  8. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mengurangi 3,32 poin
  9. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 3,27 poin
  10. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) mengurangi 2,87 poin

Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi pemberat IHSG, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang turun 7,28%, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) amblas 6,36%, dan juga saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melemah 5,73%.

Senada dengan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) drop 5,61%, saham PT XLSmart Tbk (EXCL) melemah 5,12%, dengan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) terpeleset 4,81% hingga menjadi pemberat IHSG.

Rupiah Melemah Mendekati Level Terendah Sepanjang Sejarah

Depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Menutup perdagangan hari ini, rupiah berada di posisi Rp17.943/US$. Mata uang Tanah Air melemah 0,15% pada Jumat (24/7/2026).

Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp17.977/US$ yang menjadi titik terlemahnya secara intraday. Mendekati level All Time Low–nya di posisi Rp18.000–an/US$, berdasarkan data Bloomberg.

Sejumlah tekanan masih membayangi pergerakan rupiah, seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap tekanan harga minyak mentah yang berpotensi memperlebar defisit fiskal dan neraca perdagangan. 

Sebagai catatan, rupiah telah melemah mencapai 6,98% sepanjang tahun ini. Sedang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 28%, dan yield obligasi pemerintah masih berada di posisi tinggi. 

Harga minyak yang bertahan di level tinggi menyebabkan gejolak di pasar keuangan dunia. Adapun rata-rata imbal hasil (yield) dalam Bloomberg Global Treasury Index melonjak menjadi 3,68%, melampaui puncak yang tercatat tiga tahun lalu dan mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan global pada 2008. 

Mengutip Mega Capital Sekuritas, aksi jual hari ini terjadi lantaran dua hal. Pertama, pengumuman tarif baru oleh Kepala Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menggantikan tarif global sementara 10%. Kedua, meluasnya konflik AS-Iran hingga ke Selat Bab al-Mandab yang ditandai dengan serangan terhadap dua tanker minyak milik Arab Saudi.

(fad)

No more pages