Logo Bloomberg Technoz

“Jika Anda melihat perkembangan proyek, momentumnya tidak pernah benar-benar melambat,” katanya. “Kita tidak boleh meremehkan kemauan China untuk membangun kapasitas tenaga angin dan surya dalam skala sebesar ini.”

Proyek-proyek yang sedang berjalan menandakan kemungkinan pemulihan penambahan kapasitas pada paruh kedua tahun ini. Meski China baru memasang 60 gigawatt panel surya baru hingga akhir Mei, BloombergNEF memperkirakan negara tersebut akan mencapai 255 gigawatt pada akhir tahun.

Risiko terbesar bagi energi terbarukan adalah pembatasan produksi, yaitu ketika jaringan listrik memaksa pembangkit tenaga angin dan surya untuk dihentikan guna menghindari kelebihan beban listrik.

Tingkat pembatasan produksi telah meningkat di seluruh negeri, terutama di wilayah barat di mana sebagian besar proyek pembangunan berlokasi, menurut GEM. 

China berusaha mengatasi masalah ini dengan apa yang disebut Yu sebagai pendekatan “dua kaki”—membangun jalur transmisi jarak jauh untuk mengalirkan listrik ke timur, sekaligus memindahkan industri yang boros energi ke barat untuk memanfaatkan pasokan listrik yang melimpah.

Meski pendekatan ini masuk akal, hal itu berisiko semakin memperkuat ketergantungan pada batu bara kecuali disertai dengan langkah-langkah yang memprioritaskan energi terbarukan, kata Yu.

Jaringan transmisi jarak jauh yang ada di China saat ini sudah mengalirkan listrik berbahan bakar batu bara sekitar dua kali lipat lebih banyak daripada listrik terbarukan. 

Sementara itu, proyek-proyek pembangunan fasilitas hidrogen hijau untuk memanfaatkan kelebihan listrik bersih berisiko dijadikan sekadar pencitraan untuk transisi energi, katanya, sehingga memungkinkan perusahaan memenuhi persyaratan regulasi tanpa secara signifikan mengurangi dampak industri yang sangat mencemari lingkungan seperti sektor konversi batu bara menjadi bahan kimia.

(bbn)

No more pages