Logo Bloomberg Technoz

Pada 2015, usai pemerintah meluncurkan megaproyek konversi minyak tanah ke LPG 3 kg, Pindad menjadi salah satu pilar utama produsen dan pemasok tabung bagi PT Pertamina (Persero).

PT Pindad secara resmi ditugaskan oleh Kementerian ESDM untuk mendukung ini yang bertujuan mempercepat konversi di daerah-daerah yang belum terjangkau secara penuh (seperti Aceh, Sulawesi, dan Papua) sekaligus memberdayakan industri manufaktur dalam negeri.

Pada tahap awal, PT Pindad mendapatkan pesanan 2 juta tabung LPG ditambah dengan converter kit untuk nelayan (pengonversi mesin kapal yang dapat mengubah solar ke LPG) dengan anggaran sebesar Rp1,7 triliun.

Kala itu, Pindad memproduksi unit tabung LPG ukuran 3 kg dan 12 kg dengan standar Standar Nasional Indonesia (SNI) yang ketat.

Menggunakan teknologi pengerjaan pelat baja khusus (deep drawing process) dan sistem pengelasan otomatis (submerged arc welding) standar militer.

Adapun saat itu, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) menjadi pemasok utama bahan baku; baik untuk tabung LPG 3 kg dan 12 kg juga untuk converter kit.

Dalam catatan PT Pindad, produksi berlanjut pada 2019. Pindad kembali mengamankan pesanan minimal 1 juta tabung gas 3 kg untuk mendukung program konversi energi nasional kepada Pertamina.

Tidak hanya itu, pada tahun yang sama, Pindad juga menyuplai varian tabung gas untuk pihak swasta, yaitu kontrak pasokan 40.000 unit tabung 4,5 kg untuk PT ECGI (East Continent Gas Indonesia).

Sampel tabung gas CNG Merah Putih kapasitas 3 kg./dok. Lemigas

Tantangan Kompleks

Meskipun Pindad tercatat pernah memproduksi tabung LPG, tantangan manufaktur tabung CNG dinilai jauh lebih kompleks.

Sebelumnya, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan produk CNG memiliki tekanan sekitar 200 hingga 250 bar atau setara 3.600 psi, sedangkan LPG hanya sekitar 5 hingga 10 bar.

Walhasil, dia khawatir jika kini masifikasi CNG justru dilakukan melalui pemanfaatan tabung 3 kg, bakal terjadi risiko keamanan.

Terlebih, tabung CNG 3 kg yang digunakan harus didesain secara khusus, bahkan terdapat potensi ukurannya lebih besar dari tabung LPG 12 kg.

“Satu alasan utamanya yang paling kritikal adalah masalah safety. Ini bayangkan kita masyarakat ya, masyarakat menggunakan CNG,” kata Moshe ketika dihubungi, Senin (12/5/2027).

Jika kerja sama antara Kementerian ESDM dan Pindad dilakukan untuk proyek CNG, maka di sinilah kompetensi Pindad sebagai produsen selongsong amunisi dan tabung tekanan alutsista diuji, terutama untuk keamanan masyarakat yang didorong untuk bermigrasi menggunakan CNG.

Proyek Lain

Adapun, di luar proyek sipil dan energi, PT Pindad memang merupakan produsen utama Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) bagi TNI dan Polri, serta mengekspor produk militer ke berbagai negara.

Mengutip data Pindad, berikut adalah lini produk alutsista utama yang pernah diproduksi:

1. Kendaraan Khusus & Ranpur (Kendaraan Tempur):

a) Rantis Maung 4x4 / MV3: Kendaraan taktis serbaguna yang dikembangkan untuk operasional militer serta dijadikan kendaraan operasional pejabat/kepresidenan (Garuda Limousine).

b) Panser Anoa 6x6: Kendaraan angkut personel lapis baja (APC) teruji di berbagai medan operasi dan pasukan perdamaian PBB (UNIFIL).

c) Panser Badak 90mm: Kendaraan tempur pendukung tembakan (Direct Fire Support) dengan meriam kaliber 90mm.

d) Medium Tank Harimau: Tank tempur kelas menengah hasil kolaborasi Pindad dengan FNSS Turki.

Poros untuk kendaraan pengangkut personel lapis baja PT Pindad Anoa ditata untuk dirakit di pabrik perusahaan di Bandung./Bloomberg-Dadang Tri

2. Senjata Api:

a) Senapan Serbu Seri SS2 (SS2-V1 hingga SS2-V5): Senjata standar perorangan TNI/Polri yang langganan menjuarai kompetisi menembak internasional seperti AASAM (Australia) dan AAMOC.

b) Senapan Penembak Runduk (SPR-2 & SPR-3): Senjata sniper jarak jauh kaliber 12.7mm yang mampu menembus pelat baja.

c) Submachine Gun PM3 & Pistol G2 Premium: Senjata jarak dekat untuk satuan khusus.

3. Amunisi & Munisi:

a) Produsen Amunisi Kaliber Kecil (MUKK) seperti 5.56mm, 7.62mm, 9mm, serta Amunisi Kaliber Besar (MUKB) dan mortir yang diproduksi terintegrasi di Divisi Munisi Turen, Malang.

4. Produk Industrial & Peralatan Sipil:

a) Excavator Pindad Excava 200: Alat berat komersial buatan dalam negeri.

b) Peralatan Perkeretaapian: Air brake system, penambat rel (rail fastener), dan komponen mesin kereta api.

Pengembangan tabung CNG Merah Putih bersama Pindad diproyeksikan memberikan dampak ganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional.

Selain menekan beban impor LPG yang melampaui 6,5 juta ton per tahun, proyek ini akan memperkuat rantai pasok industri manufaktur baja lokal.

enteri ESDM Bahlil Lahadalia bahkan sempat mengungkapkan bahwa langkah transisi LPG ke CNG berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp30 triliun.

"[Hal] yang jelas harganya lebih murah 30% sampai 40% daripada LPG. Kalau 30%—40% sekarang subsidi kita berapa? Rp86 triliun sampai Rp90 [triliun]. Kali rata-ratalah, kalau katakanlah 25%, kali 30%, berarti kan [subsidi] Rp27 triliun sampai Rp30 triliun bisa kita lakukan efisiensi," ujar Bahlil saat ditemui wartawan di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026).

Menurut Bahlil, harga CNG jauh lebih ekonomis jika dibandingkan dengan LPG yang selama ini disubsidi oleh pemerintah. Efisiensi ini diharapkan dapat menekan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Meski begitu, hingga saat ini tahap uji coba CNG masih berlangsung di China. Bahlil mengatakan hal ini menjadi krusial sebelum pemerintah memfinalisasi kerja sama teknis bersama BUMN terkait, yaitu Pindad.

(smr/wdh)

No more pages