Logo Bloomberg Technoz

“Sementara itu, jika terjadi gangguan serius di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, harga bisa kembali melonjak ke kisaran US$120—US$130/barel,” kata Yusuf ketika dihubungi, Selasa (21/7/2026).

Grafik pergerakan minyak. (Sumber: Bloomberg)

Yusuf mencatat pada fase awal perang Iran, sejumlah langkah sudah dilakukan oleh berbagai negara untuk meredam harga minyak mentah ke level US$70/barel. 

International Energy Agency (IEA), misalnya, sudah mengumumkan bakal melepas sekitar 400 juta barel cadangan minyak mentah darurat, sementara OPEC+ menambah produksi secara bertahap.

Saat ini, Yusuf menilai sebagian besar cadangan penyangga sudah digunakan dan kapasitas produksi cadangan juga terbatas.

Dengan begitu, setiap eskalasi baru akan memberi dampak yang lebih besar terhadap harga minyak dunia karena pasar menjadi jauh lebih sensitif.

“Bahkan lembaga seperti EIA [Badan Informasi Energi AS] juga beberapa kali mengubah proyeksinya dalam waktu singkat, yang menunjukkan betapa tingginya ketidakpastian saat ini,” tegas dia.

Tambahan Risiko

Dihubungi secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kenaikan harga minyak mentah Brent ke atas US$90/barel merupakan tambahan risiko akibat perang, bukan semata-mata karena permintaan minyak dunia tetiba melonjak.

Dia memandang pasar sedang menilai risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah, utamanya jika Selat Hormuz terganggu.

Josua juga mencermati peringatan International Monetary Fund (IMF) yang menyatakan bantalan pasar minyak sudah terpakai karena penurunan permintaan, kenaikan produksi, dan penarikan persediaan sebelumnya, sehingga ruang untuk menyerap guncangan baru makin terbatas.

“Dalam jangka pendek, saya memperkirakan Brent akan bergerak sangat bergejolak di kisaran US$88—US$100/barel,” kata Josua ketika dihubungi, Selasa (21/7/2026).

Lebih jauh, Josua memprediksi jika konflik tetap pana,  tetapi tidak sampai menutup arus minyak dari Teluk Persia, harga minyak mentah dunia diprediksi bertahan di US$90 —US$95/barel.

Sementara itu, jika serangan terhadap kapal berlanjut, biaya asuransi dan pengiriman naik, atau pasokan dari Selat Hormuz terganggu lebih nyata; harga minyak dunia diestimasikannya menembus US$100/barel dan bergerak ke US$105—US$110/barel. 

Dalam skenario terburuk, Josua menyebut lonjakan harga sementara ke US$115—US$120/barel bakal menjadi ancaman. Dia khawatir harga minyak mentah dunia bakal meroket ke level tersebut jika terjadi gangguan besar pada Selat Hormuz.

“Dalam skenario terburuk berupa gangguan besar pada arus Hormuz, lonjakan sementara ke US$115—US$120/barel tidak bisa dikesampingkan,” tegas Josua.

Adapun, berdasarkan catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rata-rata harga minyak mentah ICE Brent pada Juni 2026 adalah US$84,98/barel. Kemudian, rata-rata harga Dated Brent pada Juni 2026 mencapai US$86,13/barel.

Lalu lintas yang terlihat melalui Selat Hormuz hampir terhenti total pada Senin pagi setelah akhir pekan yang diwarnai eskalasi ketegangan antara AS dan Iran.

Serangan terhadap kapal kemungkinan akan menimbulkan kekhawatiran baru tentang keselamatan kapal yang melintasi jalur air tersebut sambil mendekati pantai Oman—seringkali dengan transponder dimatikan, yang dikenal sebagai "going dark", dan terkadang dengan dukungan militer AS.

Para pedagang minyak dan eksekutif perkapalan telah memantau apakah kapal-kapal dapat melewati Selat Hormuz melalui koridor yang disetujui Iran di sebelah utara, yang akan membuat penyewa kapal dan pemilik kapal menghadapi risiko kepatuhan, atau melalui rute Oman di sebelah selatan.

Blokade Houthi mengancam ekspor melalui Laut Merah./dok. Bloomberg

Minyak Brent untuk penyelesaian September turun 0,8% menjadi US$88,47/barel pada pukul 12:03 siang ini di Singapura.

West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, yang berakhir pada Selasa, turun 0,5% menjadi US$82,98/barel. Kontrak September yang lebih aktif turun 0,5% menjadi US$82,08/barel.

(azr/wdh)

No more pages