Meidy juga mencatat harga logam nikel sempat menyentuh level sekitar US$20.000/ton pada pertengahan Mei 2026, didorong ekspektasi pengetatan pasokan dari Indonesia, hingga akhirnya terkoreksi gegara tingginya persediaan di LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE).
“Pergerakan harga membuktikan bahwa kebijakan produksi Indonesia sekarang diperhatikan secara langsung oleh pasar internasional. Setiap isu mengenai kenaikan atau penurunan RKAB segera memengaruhi sentimen dan harga nikel global,” ujar Meidy.
Dia menambahkan, komunikasi kebijakan dari pemerintah mengenai kuota produksi perlu dilakukan secara terukur, konsisten, dan berbasis data, karena spekulasi mengenai kenaikan kuota produksi secara berlebihan dapat menciptakan tekanan terhadap harga bahkan sebelum keputusan resmi diterbitkan.
Lebih lanjut, Meidy melaporkan realisasi bijih nikel sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 120,6 juta ton atau setara 46,2% dari kuota produksi dalam RKAB 2026 sebanyak 260—270 juta ton.
APNI mencatat saat ini terdapat 422 izin usaha pertambangan (IUP) nikel aktif yang memasok 79 fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel.
Dia menjelaskan 79 smelter tersebut terdiri atas 55 fasilitas pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), 10 pabrik hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL), 10 penghasil nickel matte, dan 6 smelter baja nirkarat terintegrasi.
Dia mencatat kebutuhan bijih 79 smelter tersebut jika beroperasi pada kapasitas penuh dapat mencapai 415 juta ton per tahun.
BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, merevisi naik proyeksi harga logam nikel 2026 menjadi US$17.000/ton dari sebelumnya US$16.600/ton, akibat pemangkasan kuota produksi dalam RKAB Indonesia hingga gangguan pasokan bahan baku smelter.
Dalam risetnya, BMI mencatat harga logam nikel rata-rata sepanjang Januari hingga 7 Juli 2026 mencapai US$17.862/ton.
Kenaikan tersebut didorong oleh ekspektasi pasar bahwa pengurangan kuota bijih nikel Indonesia akan memperketat pasokan bijih dan meningkatkan harga bahan baku bagi fasilitas pemurnian dan pengolahan nikel.
Pada saat yang sama, BMI mencatat kekhawatiran terhadap produksi smelter hidrometalurgi berbasis HPAL di Indonesia meningkat, akibat terbatasnya pasokan sulfur sehingga makin memperkuat sentimen kenaikan harga nikel.
Selain itu, BMI menyatakan sentimen tersebut makin menguat setelah Kementerian ESDM merevisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) yang menaikkan harga acuan transaksi bijih nikel domestik sehingga meningkatkan biaya pengadaan bijih bagi smelter.
“Harga rata-rata telah mencapai US$17.862/ton secara year to date [ytd] hingga 7 Juli, didukung oleh ekspektasi bahwa kebijakan Pemerintah Indonesia yang lebih ketat akan membatasi ketersediaan bijih dan meningkatkan biaya pengadaan, di samping risiko terhadap produksi HPAL domestik yang berasal dari makin ketatnya ketersediaan asam sulfat,” tulis BMI dalam riset terbarunya, dikutip Kamis (16/7/2026).
Adapun, Kementerian ESDM menegaskan tidak akan ada peningkatan signifikan terhadap kuota produksi nikel dalam RKAB 2026. Namun, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan pasar guna mencegah terjadinya kelebihan pasokan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan penyesuaian RKAB hanya akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pemurnian (smelter) yang saat ini masih kekurangan pasokan bijih nikel.
"Ini saya mau jelaskan, nikel tidak ada kenaikan [kuota produksi di RKAB] kecuali hanya mengejar untuk smelter yang masih kekurangan suplai. Itu saja," ungkap Tri saat ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/7/2026) petang.
Saat ditanya mengenai perincian angka penambahan kuota tersebut, Tri enggan membeberkan secara spesifik.
Dia menyebut Ditjen Minerba masih menghitung total kebutuhan smelter dan mencocokkannya dengan kuota RKAB yang telah disetujui sebelumnya.
Sekadar informasi, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta ton.
Nikel dilego di harga US$16.929/ton di London Metal Exchange (LME) pagi ini, turun 0,19% dari penutupan hari sebelumnya.
(azr/wdh)

































