Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, pemerintah juga menjamin anggaran subsidi energi tetap aman meski harga internasional melonjak. Ini akan menurunkan risiko kredit mikro dan kredit di pedesaan. 

“Kami memperkirakan ada reli jangka pendek untuk saham BBRI,” ungkap riset JPMorgan.

Saat ini, JPMorgan menghitung valuasi saham BBRI ada di bawah rata-rata 5-10 tahun terakhir. Jadi, saham BBRI menjadi menarik, bahkan lebih atraktif dibandingkan bank-bank besar Tanah Air lainnya.

Prospek Semester II-2026

Sementara itu, riset CLSA menyebut ada beberapa faktor yang bisa menjadi sentimen positif bagi perseroan pada semester II-2026. Pertama adalah peningkatan belanja pemerintah, karena biasanya penyerapan anggaran negara akan lebih intensif pada paruh kedua.

Ketika belanja negara terakeselasi, maka likuiditas di sistem akan membaik. Ini kemudian terkait dengan sentimen positif kedua, yaitu dana Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang kembali dimasukkan ke sistem perbankan. Likuiditas yang memadai akan membuat persaingan dana menjadi berkurang, dan mengurangi tekanan biaya.

Sentimen ketiga adalah penyesuaian suku bunga kredit seiring kenaikan suku bunga acuan. Sejak Mei, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin (bps).

Repricing kredit, di mana kredit korporasi dan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) naik 25-50 bps, akan mengangkat marjin bunga bersih (NIM),” sebut riset CLSA.

CLSA juga memandang prospek saham BBRI dengan optimistis. Saat ini valuasi saham perseroan dengan pendekatan Price-Book Value (PBV) ada di 1,4x, jauh di bawah rata-rata jangka panjang yaitu 2,12x.

“Valuasi yang menarik untuk investor jangka menengah-panjang,” tulis riset CLSA.

(red)

No more pages