Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan data terakhir BI, pertumbuhan M0 memang masih terjaga di level double digit yaitu sebesar 12,8% secara tahunan (year on year/YoY) pada akhir Juni 2026. 

"Kalau M0-nya masih double digit, artinya likuiditas sangat cukup. Yang penting masih positif. Kalaupun negatif, ya segera kita dorong biar positif lagi," ujar Herman.

Di sisi lain, dia menegaskan baik Kemenkeu dan Bank Indonesia (BI) yang sama-sama tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)  terus menyinergikan bauran kebijakan terkait likuiditas perbankan, layaknya sebuah tim bola basket.

Herman menyampaikan dinamika likuiditas memang selalu menjadi perhatian dalam KSSK. Sinergi menjaga likuiditas, kata dia, juga turut ditekankan oleh Komisi XI DPR RI dalam rapat kerja tertutup bersama KSSK pada Senin (20/7/2026). 

"DPR berpesan kepada kami, koordinasi kebijakan itu selalu dilakukan dengan baik dan sinergis. Apakah itu dalam menjaga likuiditas atau menjaga stabilitas secara umum, perlu dilakukan koordinasi dengan sebaik-baiknya," tutur Herman. 

Perbedaan pendapat likuiditas ini sebelumnya dipicu oleh pernyataan Menteri Keuangan sekaligus Koordinator KSSK Purbaya Yudhi Sadewa. Purbaya melontarkan kritik indikator likuiditas yang kerap disebut melimpah (ample) oleh Kemenkeu, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maupun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejatinya tidak akurat, lantaran banyak bank di lapangan yang mengeluhkan seretnya pasokan dana tunai. 

“Jadi ada kesalahan data atau indikator yang kita pakai oleh KSSK selama ini. Saya sudah minta tim KSSK perbaiki itu, tapi rupanya masih belum dapat,” ujarnya Rabu (15/7/2026).

Kala itu, Purbaya mengaku hanya memercayai data M0 dari BI sebagai satu-satunya tolok ukur pasokan uang yang valid. Sebagai respons atas seretnya likuiditas, pemerintah akhirnya menempatkan dana jumbo di bank-bank milik negara (Himbara) yang totalnya kini mencapai Rp381 triliun.

Dalam kesempatan terpisah, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan pasokan likuiditas perbankan sudah memadai seperti yang tercermin dari pergerakan Indonesian Overnight Index Average (Indonia) yang merupakan representasi suku bunga antarbank. 

Destry melaporkan, posisi Indonia sempat menyentuh level 6,62% pada 18 Juni 2026, namun telah melandai secara signifikan menjadi 6,17% pada 16 Juli 2026. Menurutnya, penurunan Indonia tersebut mencerminkan berkurangnya tekanan permintaan likuiditas di pasar uang antarbank.

(mfd/ell)

No more pages