Logo Bloomberg Technoz

Beras Langka: Ritel Kosong Bukan Kehabisan, Tapi HET Tidak Sesuai

Sabrina Mulia Rhamadanty
05 September 2026 16:00

Calon pembeli melihat beras premium kemasandi salah satu ritel di Jakarta Selatan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Calon pembeli melihat beras premium kemasandi salah satu ritel di Jakarta Selatan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Peneliti Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian menegaskan kekosongan beras premium di rak-rak ritel modern bukan disebabkan oleh ketiadaan pasokan di tingkat produsen, melainkan karena kebijakan batasan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah tidak sesuai. 

"Stok ada, tetapi harga yang diizinkan pemerintah di kanal formal sudah tidak menutup biaya ekonomi menyediakan beras premium kemasan,” ungkap Eliza saat dihubungi, Jumat (4/9/2026).

Eliza menerangkan keberadaan pasokan beras di gudang pemerintah tidak bisa serta-merta disamakan dengan ketersediaan beras kemasan bermerek di pasar ritel. Untuk sampai ke rak supermarket, beras harus melalui rantai pasok yang panjang dan membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit.


"Stok [beras premium] di pemerintah tidak otomatis sama dengan stok premium bermerek di rak supermarket. Ada proses penggilingan, grading, pengemasan, distribusi, pergudangan, dan biaya ritel yang harus dilewati,” jelasnya.

Ia menambahkan ritel modern terikat pada aturan HET yang belum diperbarui oleh pemerintah. Di sisi lain, biaya produksi di tingkat hulu terus membengkak akibat penyesuaian harga gabah di pasaran.