Pada pukul 07:31 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,43% ke US$ 3.999,7/troy ons. Sepanjang pekan lalu, harga sang logam mulia masih melemah 2,53% secara point-to-point.
Perkembangan di Timur Tengah jadi beban bagi langkah harga emas. Amerika Serikat (AS) dan Iran terus terlibat bentrok.
Akhir pekan lalu, AS menyerang wilayah selatan Iran di mana enam jembatan jadi ‘korban’ serangga tersebut. Media Iran juga melaporkan ada serangan di Kota Bushehr (Provinsi Lorestan).
Iran pun membalas. Teheran menyerang basis militer AS di Kuwait, Yordania, Bahrain, dan Oman.
Konflik di Timur Tengah membuat harga minyak melejit. Pekan lalu, harga minyak jenis brent meroket hampir 16%.
Jika harga energi terus melambung, maka dunia akan terancam mengalami lonjakan inflasi. Hal yang tentu akan direspons oleh bank sentral di berbagai negara dengan pengetatan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan.
“Eskalasi akan membuat proyeksi kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed (Federal Reserve, bank sentral AS) terus ada,” ujar Ryan McKay, Senior Commodity Strategist TD Securities, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% pada bulan ini adalah 14,4%. Namun dalam rapat September, kemungkinannya sudah 53,5%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
(aji)




























