Perjalanan penyakit yang lebih lambat ini membawa risiko lain. Pasien Ebola secara konsisten memiliki peluang bertahan hidup terbaik jika ditangani sejak dini, sebelum peningkatan kadar virus mendorong penyakit menuju syok septik dan kegagalan multi-organ. Jika strain Bundibugyo memberi dokter kesempatan lebih lama untuk melakukan intervensi sebelum mencapai titik tersebut, obat antivirus mungkin memiliki peluang lebih baik untuk mengubah perjalanan penyakit.
Kemungkinan ini telah membangkitkan kembali minat terhadap obat antivirus seperti remdesivir dari Gilead Sciences Inc., yang menurut temuan laboratorium Levine lebih efektif melawan Ebola Bundibugyo dibandingkan Ebola Zaire dalam eksperimen di cawan Petri.
Para peneliti bulan ini mulai menguji remdesivir bersama terapi antibodi MBP134 dari Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam uji klinis yang disponsori Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Kongo, sementara studi terpisah sedang mengevaluasi obat antivirus oral eksperimental Gilead, obeldesivir, pada orang-orang yang baru-baru ini terpapar virus tersebut.
Kebutuhan Semakin Mendesak.
Jumlah kematian hampir dua kali lipat bulan ini, lebih dari 90% kematian yang dikonfirmasi terjadi sebelum pasien tiba di pusat perawatan, dan empat dari setiap lima kasus infeksi baru kini muncul di luar rantai penularan yang diketahui, menurut WHO. Unit Ebola yang penuh sesak dan keterlambatan diagnosis memungkinkan orang yang terinfeksi tetap berada di komunitas mereka lebih lama, sehingga memicu penyebaran lebih lanjut.
Kongo telah melaporkan 2.181 kasus terkonfirmasi dan 864 kematian, sehingga mendorong rasio kematian kasar wabah ini menjadi 40%, demikian disampaikan Institut Kesehatan Masyarakat Nasional pada hari Jumat.
Meyakinkan masyarakat untuk mencari perawatan selalu menjadi salah satu tantangan terbesar dalam wabah Ebola.
Selama wabah di Afrika Barat, banyak dari lebih dari 28.000 orang yang terinfeksi memandang pusat perawatan sebagai tempat untuk meninggal, bukan tempat untuk sembuh, karena tidak ada vaksin maupun pengobatan yang terbukti efektif yang dapat ditawarkan, kata Joanne Liu, mantan presiden internasional Médecins Sans Frontières, yang turut memimpin upaya penanggulangan tersebut.
Pengobatan dini dapat membuat perbedaan yang sangat besar. Pasien yang mendapatkan perawatan memiliki peluang bertahan hidup “tiga hingga empat kali” lebih tinggi daripada mereka yang tetap berada di masyarakat, kata Chikwe Ihekweazu, direktur eksekutif program darurat kesehatan WHO, kepada wartawan pada hari Kamis.
Perawatan yang Lebih Baik
Wabah di Afrika Barat mengubah pusat perawatan Ebola dari tempat yang sebagian besar berfokus pada isolasi menjadi fasilitas yang memberikan perawatan suportif intensif bersamaan dengan obat-obatan eksperimental, kata Daniel Chertow, seorang dokter perawatan kritis di Institut Kesehatan Nasional AS yang membantu merawat pasien Ebola saat bekerja bersama MSF di Liberia.
Pelajaran dari Afrika Barat adalah bahwa mengobati Ebola berarti lebih dari sekadar menargetkan virus itu sendiri.
“Diperlukan dukungan menyeluruh bagi pasien,” kata Chertow. Pasien membutuhkan cairan infus secara intensif, penanganan syok, bantuan pernapasan, dan penanganan kegagalan organ, di samping obat antivirus dan antibodi.
Wabah di Bundibugyo juga dapat meningkatkan pemahaman tentang kapan obat antivirus bekerja paling efektif, bagaimana menyesuaikan perawatan suportif, dan apakah memperlambat penyebaran virus sejak dini dapat mengubah perjalanan penyakit.
Jika hipotesis Levine terbukti benar, laju perkembangan virus yang lebih lambat ini mungkin memberi para dokter lebih banyak waktu untuk memberikan perawatan pendukung intensif dan obat antivirus yang telah membantu menurunkan angka kematian akibat Ebola selama dekade terakhir.
Wabah saat ini telah menghasilkan lebih dari 10 kali lipat jumlah kasus terkonfirmasi dibandingkan gabungan dua wabah Bundibugyo sebelumnya, memberikan para ilmuwan kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mempelajari virus tersebut — sekaligus meningkatkan peluang bagi virus tersebut untuk berevolusi, seperti yang terjadi pada virus Zaire selama wabah di Afrika Barat.
Semakin luas penyebaran Bundibugyo, semakin besar peluangnya untuk mengalami “perubahan genetik yang dapat menyebabkan kehancuran yang tak terkira,” kata Pardis Sabeti, seorang ahli genetika di Broad Institute of MIT dan Harvard yang program Sentinel-nya mendukung pengurutan genom di Kongo. “Setiap mutasi dapat memengaruhi biologi virus,” katanya.
Ketika Levine mulai meneliti Ebola Bundibugyo untuk disertasi doktoralnya hampir satu dekade lalu, virus tersebut baru menyebabkan dua wabah yang relatif kecil dan hanya menarik sebagian kecil dari perhatian ilmiah yang ditujukan pada Ebola Zaire.
“Semua orang bilang, ‘Oh, itu cuma yang kecil itu,’” kata dia.
Kini, virus tersebut telah menyebabkan wabah Ebola terbesar ketiga dalam sejarah, mengubah penelitian laboratorium yang selama bertahun-tahun kurang mendapat sorotan menjadi salah satu pertanyaan ilmiah paling mendesak dalam bidang kesehatan global.
“Segala sesuatu bisa terjadi di dunia ini,” kata Levine.
(bbn)



























