Adapun, kontribusi proyek gas alam cair tersebut terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional disebut mencapai US$137,8 miliar hingga 2025, sedangkan kontribusi ke peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB) Provinsi Maluku US$95 miliar dan Kabupaten Tanimbar US$92 miliar.
Prioritas Lokal
Terkait dengan pembukaan lapangan kerja tersebut, Bahlil mendesak CEO Inpex Corp Takayuki Ueda untuk memprioritaskan rekrutmen terhadap masyarakat lokal di wilayah tier 1 proyek LNG Abadi Masela.
“Anak-anak Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya, sebagian sudah dikirim untuk sekolah di Cepu, di akademi migas milik ESDM dan keluaran mereka sudah 3–4 tahun akan kita serap untuk bekerja di proyek Blok Masela,” tutur Bahlil.
“Nanti, Pak Ueda serta rekan-rekan Petronas dan Pertamina, lapangan pekerjaan yang profesional kita ambil dahulu dari tier 1 sama tier 2. Kalau sudah habis, baru kita ambil saudara-saudara kita di Jawa atau di luar negeri.”
Lapangan Abadi Masela akan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun atau setara dengan 150 MMSCFD, serta 35.000 barel kondensat per hari untuk mengerek peningkatan produksi siap jual (lifting) migas nasional.
Investasi proyek LNG Abadi Masela senilai US$20,9 miliar tersebut sudah termasuk komponen tambahan US$1 miliar untuk teknologi tangkap dan simpan karbon atau carbon capture and storage (CCS).
Pemerintah pusat memberikan komitmen hak kelola atau participating interest (PI) sebesar 10% kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Maluku sebagai bagian dari skema manfaat bagi daerah.
Tadinya, pemegang PI Blok Masela a.l. Inpex Masela Limited sebesar 65%, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) 20%, dan Petronas Masela Sdn. Bhd. 15%.
Riwayat proyek Lapangan Abadi di Blok Masela:
- 2000 : Cadangan gas Lapangan Abadi ditemukan di Blok Masela, Laut Arafura.
- 2010 : Pemerintah menginstruksikan perubahan desain dari fasilitas terapung lepas pantai (FLNG) menjadi fasilitas darat (Onshore LNG), menyebabkan penundaan signifikan dan revisi Plan of Development (POD).
- Juni-Juli 2019 : POD revisi untuk Onshore LNG mendapat persetujuan pemerintah; estimasi investasi awal sekitar USD 20 miliar.
- Juli 2023 : Shell melepas 35% participating interest (PI); saham dialihkan kepada Pertamina (20%) dan PETRONAS (15%), sehingga struktur kepemilikan menjadi INPEX Masela 65%, Pertamina Hulu Energi Masela 20%, PETRONAS Masela 15%.
- April-Desember 2023 : INPEX mengajukan revisi POD untuk memasukkan komponen Carbon Capture and Storage (CCS), yang disetujui pemerintah pada Desember 2023 dan menjadikan Abadi salah satu proyek LNG pertama di dunia dengan skema cost recovery untuk CCS yang beroperasi bersamaan dengan produksi.
- Februari 2025 : INPEX mengumumkan penundaan target Final Investment Decision (FID) ke tahun 2027, dengan proses FEED (Front-End Engineering Design) dimulai sepanjang 2025.
- April-Agustus 2025 : FEED untuk Onshore LNG (OLNG), FPSO, SURF, dan GEP resmi dimulai; nilai proyek diperbarui menjadi sekitar USD 20,94 miliar (± Rp342 triliun).
- Februari 2026 : Pemerintah Indonesia memberikan persetujuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL); pembangunan fisik proyek resmi dimulai.
- Maret 2026 : Presiden Prabowo Subianto secara langsung meminta dukungan percepatan proyek kepada Pemerintah Jepang dalam kunjungan kerja ke Tokyo; nilai investasi dikonfirmasi mencapai USD 20,9 miliar (termasuk tambahan USD 1 miliar untuk CCS).
- Juni 2026 : Proses pembebasan lahan di Kepulauan Tanimbar dinyatakan rampung oleh Ditjen Migas Kementerian ESDM.
- Juli 2026 : Groundbreaking PSN Blok Masela direncanakan dilaksanakan, dihadiri Presiden RI.
(wdh)




























