“Pelemahan inflasi ini kemungkinan besar hanya bersifat sementara dan diperkirakan akan memudar paling cepat pada laporan bulan depan,” ujar Omair Sharif, presiden dari Inflation Insights LLC. “Ini adalah kabar baik bagi The Fed, namun perjuangan mengendalikan inflasi masih jauh dari kata selesai.”
Menyusul rilis laporan tersebut, indeks saham S&P 500 terpantau menguat sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) bergerak turun. Para investor juga mulai mengurangi spekulasi mereka terkait adanya kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Juli ini. Di sisi lain, Gubernur The Fed Kevin Warsh menyatakan dalam naskah pidato persiapannya sebelum memberikan kesaksian di hadapan Kongres pada hari Selasa bahwa bank sentral "tidak memiliki toleransi" terhadap inflasi yang terus-menerus tinggi.
Indikator sektor jasa yang dipantau ketat oleh The Fed—yang mengecualikan biaya perumahan dan energi—turun sebesar 0,2%, menyamai penurunan terdalam sejak awal pandemi. Penurunan ini didorong oleh merosotnya premi asuransi kendaraan bermotor, yang juga mencatat penurunan tertajam sejak 2020, serta sektor jasa komunikasi.
Laju IHK inti juga tertahan oleh penurunan bulanan pada harga barang-barang konsumsi, termasuk pakaian dan mobil bekas.
Harga bensin terpangkas hampir 10%, tarif sewa tempat tinggal naik tipis, dan harga bahan makanan meningkat untuk bulan ketiga berturut-turut yang dipicu oleh kenaikan harga daging sapi, telur, serta produk susu. Sementara itu, tarif hotel mencatatkan penurunan tertajam dalam lebih dari setahun terakhir setelah sempat naik selama empat bulan berturut-turut. Di sisi lain, harga makanan di restoran hanya mengalami kenaikan tipis.
Harga perangkat lunak (software) komputer dan aksesorisnya melonjak 2,3% dalam sebulan, atau mencetak rekor lonjakan 17,4% dibandingkan tahun lalu. Adapun risalah pertemuan The Fed periode 16-17 Juni yang dirilis pekan lalu merefleksikan kekhawatiran yang mendalam di kalangan pembuat kebijakan terhadap inflasi. Mereka mengantisipasi skenario di mana inflasi tetap tinggi akibat kuatnya permintaan berbasis kecerdasan buatan (AI), konflik Timur Tengah, serta kebijakan tarif yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump.
Dalam laporan terpisah pada hari Selasa, data inflasi tersebut dikombinasikan dengan data upah terbaru. Berkat penurunan harga bensin, rata-rata pendapatan per jam riil warga AS akhirnya naik 0,1% secara tahunan, setelah sempat mencatatkan penurunan pada dua bulan sebelumnya.
Kombinasi antara tingginya harga-harga kebutuhan dan melambatnya pertumbuhan upah selama ini terus menekan anggaran rumah tangga masyarakat AS menjelang pemilu sela (midterm elections) bulan November mendatang. Tekanan ini terjadi di saat indeks sentimen konsumen dari University of Michigan baru saja mulai pulih dari level terendah sepanjang sejarah.
Indikator inflasi pilihan The Fed, yaitu indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), tidak memberikan bobot yang terlalu besar pada komponen sewa rumah jika dibandingkan dengan IHK. Data indeks harga produsen (IHP) yang dirilis pada hari Rabu akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai kategori-kategori tambahan yang akan langsung memengaruhi indeks PCE yang dirilis akhir bulan ini.
Sejumlah ekonom memperingatkan bahwa tingginya biaya pupuk dan transportasi memerlukan waktu lebih lama untuk merembet ke harga pangan dan barang konsumsi, mengingat dampak penuh dari perang belum sepenuhnya terealisasi. Selain itu, ketegangan yang baru-baru ini kembali memanas di Timur Tengah dapat memberikan tekanan tambahan pada harga-harga dalam beberapa bulan ke depan.
“Dengan munculnya kembali kendala pada rantai pasok, saya menilai hal ini akan menciptakan masalah inflasi pada akhir tahun ini, atau mungkin awal tahun depan,” ujar Pooja Sriram, ekonom senior AS di Barclays. “Jadi, meskipun tahun 2026 mungkin tidak akan terlalu merasakan dampaknya, saya pikir ini menimbulkan risiko untuk tahun 2027, terutama pada inflasi inti jika kita mempertimbangkan efek rambatannya.”
(bbn)


























