Langkah ini diambil untuk menuntaskan beberapa perbaikan komponen yang sempat tertunda pada fase awal pemulihan.
“Dalam prosesnya, ada beberapa pekerjaan perbaikan yang masih tertunda, yang diperkirakan nanti kita akan melakukan shutdown lagi di sekitar Desember atau Januari untuk melakukan penggantian beberapa peralatan yang tidak bisa kami ganti dalam empat bulan pertama,” kata Rachmat.
Dari sisi target produksi, AMNT membidik kenaikan produksi yang signifikan hingga 2027 seiring rampungnya fase pengupasan tanah penutup (stripping phase) 8, yang sebelumnya sempat menguras energi perusahaan untuk mengangkut batuan buangan (waste rock) ketimbang bijih (ore).
Di sisi lain, Rachmat menegaskan bahwa serapan pasar domestik tetap menjadi prioritas utama perseroan saat ini. Kendati demikian, perusahaan membuka peluang untuk melepas produknya ke pasar global jika kapasitas produksi hilir sudah beroperasi melampaui permintaan dalam negeri.
“Keseluruhan produk, prioritas utama adalah penjualan ke domestik, pasti saat ini hampir semua maksimal juga ke domestik. Namun kita lihat dalam perkembangan pada saat semua produksi sudah maksimal, kemungkinan kita akan perlu ekspor, terutama katoda tembaga,” tuturnya.
Sebelumnya, operasional smelter sempat lumpuh total sejak Juli 2025 akibat kerusakan pada unit flash converting furnace (FCF) dan pabrik asam sulfat (sulfuric acid plant).
Hal ini memaksa perusahaan meminta relaksasi kuota ekspor konsentrat mentah sebesar 480.000 dry metric ton (dmt) hingga April 2026 guna menghindari risiko kelebihan muatan (overcapacity) pada gudang penyimpanan tambang.
Adapun, pada Rabu (21/1/2026), Vice President Corporate Communications Amman Mineral Kartika Octaviana mengungkap smelter katoda tembaga perseroan sudah kembali beroperasi, setelah sempat dihentikan sementara sejak Juli 2025 gegara keadaan kahar.
“Kami berhasil melakukan perbaikan lebih cepat dari rencana, sehingga smelter sudah mulai kembali beroperasi. Produksi smelter juga telah meningkat secara bertahap, bahkan jauh lebih baik dari rencana awal dalam laporan kondisi force majeure,” kata Kartika kepada Bloomberg Technoz.
Saat itu, Kartika mengatakan bahwa perusahaan sedang melakukan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap atau proses ramp up.
“Namun demikian, kami terus melakukan pendekatan dan prinsip kehati-hatian untuk memastikan proses ramp up berjalan dengan aman,” tegas dia.
Adapun, AMMN mendapat persetujuan ekspor sebesar 480.000 metrik ton kering atau dmt dengan periode 31 Oktober 2025 sampai April 2026 lewat anak usahanya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).
Persetujuan ekspor konsentrat tembaga itu diberikan selepas AMMN melaporkan keadaan kahar di smelter tembaga perseroan di Nusa Tenggara Barat pada Oktober 2025. Adapun, smelter AMMN telah menyetop operasinya sejak Juli 2025.
Manajemen AMMN menerangkan keadaan kahar itu disebabkan karena kerusakan pada unit FCF dan pabrik asam sulfat.
"Kami menyampaikan apresiasi atas dukungan dari berbagai instansi, terutama Kementerian ESDM, yang telah berkoordinasi erat untuk memahami kendala teknis di fasilitas smelter Amman," ujar Direktur Utama PT AMNT Rachmat Makassau dalam siaran pers, Sabtu (1/11/2025).
Rachmat memproyeksikan smelter itu dapat kembali beroperasi pada paruh kedua 2026, mengingat skala kerumitan pekerjaan untuk perbaikan memakan waktu sampai semester I-2026.
"Selama periode perbaikan berlangsung, kami tetap melakukan operasi secara parsial dengan peningkatan produksi yang dilakukan secara hati-hati tanpa mengabaikan aspek keselamatan,” jelas Rachmat.
Dengan adanya rekomendasi izin ekspor tersebut, perseroan memastikan bahwa gudang penyimpanan konsentrat tidak melebihi kapasitas, sehingga operasional tambang tetap dapat berlanjut sesuai rencana selama fasilitas smelter diperbaiki.
(smr/ros)






























