Logo Bloomberg Technoz

Tercatat ada penguatan 421 saham, dan sebanyak 182 saham terjadi pelemahan. Sisanya 187 saham stagnan.

Saham–saham kesehatan, saham konsumen non primer, dan saham energi menjadi pendorong penguatan IHSG dengan melesat mencapai 2,21%, 1,98% dan 1,85%.

Saham–saham LQ45 juga menguat dan melejit di teritori positif i.a, adalah saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melesat 8,38%, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melejit 5,21%. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terapresiasi 4,64%.

Sama halnya, tren positif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencatat kenaikan 4,64%, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 4,08%. Saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) terapresiasi 2,94%.

Rating Indonesia

M. Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia memaparkan, IHSG menunjukkan kekuatan bullish momentum–nya setelah berhasil rebuild dari FR 50% support sehingga berhasil breakout di atas MA–20.

“Berdasarkan indikator, Stochastics K-D dan RSI menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume. Sejatinya sentimen IHSG hari Selasa ini bisa cenderung positif,” mengutip analisis Nafan Aji dalam risetnya, Senin, dengan potensi yang lebih moderat.

Adapun sentimen positif berasal dari S&P Global Ratings yang menegaskan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook tetap stabil. 

“Di sinilah S&P mempertahankan status investment grade terhadap Indonesia,” terang analis Mirae Asset.

S&P Global Ratings menegaskan peringkat utang Indonesia di level BBB/A-2 dengan outlook stabil, yang mencerminkan keyakinan terhadap ketahanan fundamental makroekonomi dan kerangka kebijakan yang prudent.

S&P menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di rentang 5% dalam jangka menengah, didukung oleh pengelolaan fiskal yang disiplin, tingkat utang pemerintah yang relatif rendah, serta berlanjutnya hilirisasi industri. 

S&P juga menilai komitmen pemerintah untuk menjaga defisit fiskal di bawah batas 3% sebagai jangkar kebijakan yang penting dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan eksternal di tengah lingkungan global yang semakin menantang.

Hal ini memberikan buffer yang kuat, hingga kepercayaan investor asing pada saham blue chip berpotensi terjaga. Yield SBN juga terbilang stabil, sekaligus mempertahankan daya tarik aset pendapatan tetap Indonesia di mata investor global. 

Terlebih lagi Andrey Wijaya, Head of Research RHB Sekuritas menuturkan, penegasan peringkat ini sebagai katalis positif bagi aset-aset Indonesia, karena memperkuat kepercayaan investor di tengah kekhawatiran terkait ekspansi fiskal dan ketidakpastian kebijakan.
 
Keputusan S&P menunjukkan lembaga tersebut masih meyakini komitmen pemerintah dalam menjaga kehati-hatian fiskal dan tetap memandang kerangka kebijakan makroekonomi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama profil kredit negara.

“Kami meyakini konsistensi implementasi kebijakan fiskal serta penguatan penerimaan negara akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor dan membatasi kenaikan biaya pendanaan pemerintah dalam jangka menengah,” tutup Head of Research RHB Sekuritas dalam catatan terbarunya.

(fad)

No more pages