Fenomena ini sukses melindungi China dari dampak perang yang berkecamuk di Timur Tengah selama berbulan-bulan. Padahal di sisi lain, rapuhnya kondisi domestik kemungkinan besar telah memperlambat pertumbuhan ekonomi kuartal kedua China hingga mendekati batas bawah dari target resmi pemerintah, yakni di kisaran 4,5% hingga 5%.
Namun, lonjakan ekspor yang digerakkan oleh sektor AI ini membuat struktur perekonomian China menjadi tidak seimbang, sehingga rentan terhadap potensi penurunan permintaan global di masa mendatang. Di dalam negeri sendiri, adopsi teknologi ini justru menambah tekanan baru pada pasar tenaga kerja mereka yang sudah tergolong rapuh.
Kekhawatiran mengenai keberlanjutan dari tren booming teknologi ini telah memicu aksi jual massal saham secara berulang di Korea Selatan baru-baru ini. Salah satu raksasa produsen cip, SK Hynix Inc, bahkan melihat harga sahamnya anjlok hingga mencetak rekor penurunan 15% pada hari Senin lalu. Di sisi lain, nilai ekspor Korea Selatan ke China tercatat meroket 92% pada bulan Juni dibanding tahun lalu, yang menjadi laju tercepat mereka sejak tahun 2010.
Bersamaan dengan kembali memuncaknya ketegangan yang melibatkan Iran, para investor dan ekonom kini juga tengah mencermati pergerakan angka impor minyak mentah China.
Negara ini mulai memainkan peran yang kian vital dalam menyeimbangkan pasar minyak global. China tercatat telah memangkas pembelian minyak dari luar negeri secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir sejak perang dimulai. Kendati demikian, para analis memperkirakan volume impor minyak mentah China akan segera pulih seiring langkah otoritas setempat yang bersiap kembali melakukan penimbunan stok strategis pada akhir tahun ini.
(bbn)

































