Logo Bloomberg Technoz

“Nama-nama yang sudah kita kenal di sini, yang saat ini listing di Hong Kong Exchange, mungkin saja bisa menjadi single stock futures underlying di bursa kita,” kata dia.

Jeffrey menegaskan perkembangan kerja sama dengan bursa global tidak mengubah fokus BEI untuk mendorong perusahaan Indonesia mencatatkan saham terlebih dahulu di pasar modal domestik.

Selain itu, kerja sama internasional justru dapat memberikan nilai tambah bagi emiten Indonesia.

Perusahaan yang telah tercatat di BEI berpeluang melakukan pencatatan di Hong Kong dengan prosedur yang lebih sederhana untuk memperluas basis investor.

“Kita tentu mengutamakan perusahaan-perusahaan Indonesia itu tercatat di Bursa Efek Indonesia. Setelah mereka tercatat di BEI, mereka bisa tercatat di Bursa Hong Kong misalnya dengan prosedur yang lebih sederhana untuk mendapatkan exposure terhadap basis investor yang lebih luas,” tutur Jeffrey.

EMAS di Hong Kong

Sebelumnya, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) merampungkan pencatatan sekunder di Main Board The Stock Exchange of Hong Kong Limited (HKEX) dalam bentuk Hong Kong Depositary Receipts (HDR) dengan kode saham 6228.

Sebagai informasi, HDR merupakan efek yang diperdagangkan di HKEX dan merepresentasikan kepemilikan manfaat atas saham biasa yang tercatat di bursa lain.

Dalam konteks pencatatan perseroan, setiap HDR merepresentasikan kepemilikan manfaat atas saham biasa perseroan yang telah tercatat dan diperdagangkan secara publik di Bursa Efek Indonesia. 

Struktur HDR memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap MGR melalui pasar Hong Kong, dengan tetap mempertahankan kepentingan ekonomi yang sama atas saham perseroan yang tercatat di Indonesia.

Adapun, transaksi ini merupakan dual listing pertama perusahaan Indonesia di HKEX, pencatatan HDR pertama di Hong Kong dalam lebih dari satu dekade, serta dual listing pertama oleh emiten Indonesia dalam lebih dari dua dekade.

“Transaksi ini juga membuka akses yang lebih luas bagi investor internasional untuk memperoleh eksposur terhadap salah satu aset pertumbuhan emas paling signifikan di Indonesia, sekaligus mencerminkan kepercayaan terhadap kualitas Tambang Emas Pani,” kata Presiden Direktur EMAS, Boyke Poerbaya Abidin dalam siaran pers pada Jumat (26/6/2026).

Sementara itu, perseroan menegaskan bahwa tidak ada satu pun pemegang HDR di HKEX yang memiliki kepemilikan manfaat lebih dari 5% dari total HDR yang beredar.

Dengan demikian, seluruh HDR yang tercatat sejalan dengan perlakuan free float yang berlaku atas saham dasar perseroan di Bursa Efek Indonesia. 

Sejumlah cornerstone investors turut berpartisipasi dalam dual listing ini, antara lain Wanguo Gold Group, CNGR Hong Kong Material Science & Technology, Mercuria, Trafigura, Glencore, Intera Mining Investment, Ping An of China Asset Management, GF Fund Management, Eurus Holdings (ORIX), Dymon Asia Multi-Strategy Investment Master Fund, dan Wind Sabre Fund SPC.

(cpa/naw)

No more pages