Di samping itu, ia juga menyoroti kondisi di stasiun Komuter Jabodetabek sampai Rangkasbitung yang masih memprihatinkan. Kondisi ini kata Deddy dapat dilihat dari panjang peron stasiun yang terbatas, kanopi terbatas sehingga pengguna kereta dapat kehujanan dan kepanasan terik matahari (jarak peron dan kereta masih tinggi di atas 20 cm).
Oleh karena itu, menurutnya perbaikan ini lebih mendesak untuk dilakukan dibandingkan melakukan pembangunan kawasan berorientasi estetika.
"Memang apapun alasannya Stasiun Gambir layang yang telah dipakai resmi tahun 1992 membutuhkan penataan baru. Namun urgensi nya masih perlu dikaji lagi mengingat masih banyak perbaikan pelayanan Kereta Api yang masih perlu ditingkatkan," jelasnya.
Meski KAI membukukan laba usaha sekitar Rp8 triliun pada 2025, laba bersih perseroan hanya mencapai sekitar Rp2,2 triliun karena besarnya beban penugasan dari pemerintah. Ia bahkan memperkirakan kinerja keuangan KAI pada semester I-2026 berpotensi mencatatkan kerugian, meski kepastiannya masih menunggu laporan keuangan yang akan disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir Juli 2026
Atas kondisi tersebut, MTI menilai proyek revitalisasi Stasiun Gambir sebaiknya tidak dibebankan kepada KAI. Menurut Deddy, proyek yang merupakan inisiatif pemerintah tersebut lebih tepat didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) atau skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
"Kondisi PT KAI saat ini mengelola armada yang cukup besar dan sebagian memerlukan penggantian sarana kereta yang mendekati akhir umur ekonomis; overhaul lokomotif dan kereta; modernisasi sistem kelistrikan dan pendingin (AC); pengadaan sarana untuk mengantisipasi pertumbuhan penumpang," kata Dedy
"Di sisi lain, perusahaan juga memiliki komitmen investasi pada proyek-proyek besar, termasuk LRT Jabodebek dan berbagai pengembangan jaringan. Oleh karena itu, disiplin dalam menentukan prioritas investasi menjadi sangat penting," tegasnya.
Adapun dari sudut pandang kebijakan transportasi, pendekatan yang paling tepat menurutnya adalah memastikan bahwa investasi pada stasiun Gambir tidak mengorbankan keselamatan, keandalan, dan ketersediaan sarana, karena ketiga aspek tersebut merupakan inti pelayanan perkeretaapian dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Untuk diketahui, PT Kereta Api Indonesia (Persero) dikabarkan bakal menyiapkan anggaran sekitar Rp1 triliun untuk merevitalisasi Stasiun Gambir, Jakarta. Proyek yang ditargetkan rampung pada 2028 itu akan mengusung konsep baru sebagai "teras Monas".
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan revitalisasi tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan layanan transportasi kereta api, tetapi juga menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat saat berada di kawasan stasiun. Nantinya, fasad baru Stasiun Gambir akan dirancang agar pengunjung dapat menikmati panorama Monumen Nasional (Monas) dari ruang publik yang lebih terbuka.
Rencana tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat di Istana Negara pada 11 Juni 2026 yang membahas modernisasi Stasiun Gambir serta percepatan penanganan perlintasan sebidang.
Dalam kesempatan itu, Presiden meminta renovasi salah satu simpul transportasi strategis di Jakarta tersebut segera direalisasikan dengan konsep integrasi antarmoda yang lebih baik, dengan target penyelesaian sekitar dua tahun.a
(ain)
































