Logo Bloomberg Technoz

Pihak UKHSA sendiri dijadwalkan akan merilis analisis interim resmi mengenai dampak mortalitas akibat gelombang panas terbaru ini dalam beberapa pekan ke depan berdasarkan data observasi riil di lapangan.

Berdasarkan laporan dari berbagai lembaga riset dan badan pemerintah di negara-negara terdampak, rekor panas ekstrem tahun ini di Eropa bagian tengah dan barat bahkan telah menelan hampir 10.000 korban jiwa yang tersebar di Inggris, Prancis, Spanyol, dan Jerman.

Kondisi diperparah karena suhu tinggi yang berbahaya ini datang lebih awal dari biasanya. Di Inggris, rekor nasional untuk bulan Mei pecah ketika suhu menembus 35,1 derajat Celsius di Kew Gardens, London barat daya. Menurut para penulis studi, panas yang tidak biasa sebelum musim panas ini diperkirakan telah memicu 550 kematian.

Memasuki bulan Juni, rekor suhu terpanas kembali pecah selama tiga hari berturut-turut hingga puncaknya melampaui 37 derajat Celsius di East Anglia. Gelombang panas di bulan Juni tersebut diperkirakan menelan korban jiwa tambahan hingga 2.200 orang.

Saat ini, Eropa dilaporkan sudah mulai menghadapi gelombang panas ketiga untuk musim ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah memperingatkan bahwa suhu ekstrem yang tengah melanda kawasan tersebut merupakan sebuah "geladi bersih" atau gambaran nyata dari ancaman masa depan seiring dengan suhu bumi yang terus meningkat.

“Kombinasi antara panas ekstrem di siang hari, kelembapan yang tinggi, serta malam hari yang panas, semuanya berakumulasi meningkatkan dampak buruk gelombang panas terhadap infrastruktur kita, mulai dari transportasi, pertanian, hingga yang paling utama adalah kesehatan dan kesejahteraan kita,” ujar Mark McCarthy, Manajer Atribusi Iklim di Met Office. “Kita sekarang melihat fenomena yang secara historis dulunya langka, kini terjadi jauh lebih sering.”

(bbn)

No more pages