Logo Bloomberg Technoz

"Serangan terhadap infrastruktur akan dibalas dengan respons yang setimpal," kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, pada Jumat, seraya memperluas peringatan tersebut kepada Israel.

Mediator, termasuk Qatar, dalam beberapa hari terakhir berupaya meredakan ketegangan yang meningkat tajam antara AS dan Iran, menurut seseorang yang mengetahui pembahasan tersebut.

Kedua negara, yang telah berperang sejak AS dan Israel membombardir Iran pada akhir Februari, tengah berupaya mencapai kesepakatan damai permanen sekitar pertengahan Agustus, meski tenggat waktu tersebut kemungkinan harus diperpanjang.

Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz menurun pada pekan ini, sementara harga minyak naik. Minyak Brent melonjak lebih dari 6% menjadi US$76,50 per barel, sehingga kenaikannya sepanjang tahun mencapai 25%.

Namun, harga tersebut masih jauh di bawah puncaknya pada akhir April sebesar US$125 per barel, ketika pelaku pasar lebih mengkhawatirkan kembalinya perang berskala penuh. Sejak saat itu, Presiden AS Donald Trump secara konsisten menyatakan ingin mengakhiri perang yang tidak didukung mayoritas warga Amerika dan telah menekan tingkat popularitasnya menjelang pemilu sela pada November.

Di tengah meningkatnya kekerasan, Trump pada Rabu menyatakan bahwa gencatan senjata telah "berakhir". Namun, ia juga mengatakan tidak akan menghalangi kelanjutan perundingan.

Perundingan melambat pada pekan ini karena Iran menggelar beberapa hari upacara pemakaman bagi Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara pada hari pertama konflik. Khamenei dimakamkan pada Kamis di kota Mashhad, Iran timur laut. Putranya sekaligus penerusnya, Mojtaba Khamenei, belum terlihat di hadapan publik maupun tampil dalam video sejak menjabat, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kondisi kesehatannya dan keterlibatannya dalam perundingan dengan AS.

Meningkatnya kembali kekerasan serta keputusan Departemen Keuangan AS mencabut pengecualian yang memungkinkan penjualan minyak Iran ke pasar global menjadi tantangan terbesar bagi kesepakatan damai sementara yang dicapai bulan lalu.

Kesepakatan awal tersebut dimaksudkan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan gas alam cair (LNG), sebelum perang praktis menghentikan lalu lintas maritim di kawasan tersebut.

Kedua pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata. Washington menuduh Teheran menyerang kapal-kapal yang melintas, sementara Iran menuduh AS mencampuri kendalinya atas jalur perairan tersebut.

Pejabat AS yang sama menyebut serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz sebagai tindakan terorisme dan mengatakan tindakan Teheran tidak memenuhi persyaratan berbasis kinerja dalam kesepahaman sementara tersebut. Menurut AS, Iran hanya dapat memperoleh kembali akses terhadap dana yang dibekukan di berbagai negara apabila memenuhi seluruh ketentuan dalam nota kesepahaman tersebut.

Iran tidak mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal pada pekan ini, termasuk tanker energi milik Arab Saudi dan Qatar.

Militer AS menyatakan Iran tidak menguasai Selat Hormuz. Menurut mereka, sejak awal Mei pihaknya telah membantu lebih dari 800 kapal komersial dan sekitar 380 juta barel minyak mentah melintasi selat tersebut.

Iran bersikeras bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz harus memperoleh izin dari Teheran dan menyatakan akan membentuk sistem pengelolaan permanen yang kemungkinan mencakup kewajiban pembayaran biaya oleh kapal-kapal yang melintas. AS dan banyak negara besar lainnya menilai hal tersebut tidak dapat diterima dan menegaskan bahwa seluruh kapal harus tetap memiliki hak melintas secara bebas.

(bbn)

No more pages