“Kemarin memang negatif karena memang dari segi impor BBM itu memang harganya spike [menanjak], harganya naik. Sedangkan ekspor daripada kelapa sawit, kemudian batu bara, dan juga ferro alloy sebetulnya angkanya relatif sama kemarin sehingga tentu ini kita akan jaga juga beberapa bulan ke depan,” tutur Airlangga.
Menurut dia, pemerintah telah menjalankan sejumlah program stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2026. Salah satunya adalah memberikan insentif bea masuk 0% untuk impor LPG, bahan baku plastik, dan suku cadang pesawat guna menekan biaya produksi serta meningkatkan daya saing industri.
“Pemerintah mendorong beberapa insentif termasuk insentif untuk industri chemicals di mana impor bahan baku plastik akan dinolkan dan ini PMK-nya sedang dibuat. Demikian pula untuk petrochemical yang kesulitan bahan baku untuk impor LPG juga kita berikan bea masuk nol untuk periode enam bulan ke depan,” ujarnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga memperkuat sisi penawaran (supply) melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga KUR untuk perumahan. Program-program tersebut dilakukan demi menggerakan sektor riil.
“Dari segi perbankan relatif aman, memang dana pihak ketiga juga di perbankan sudah double digit dan kita melihat kredit juga sudah mulai berjalan, sudah meningkat dibandingkan kuartal yang lalu,” imbuhnya.
(mfd/ell)






























