Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, terdapat badan usaha niaga BBM lainnya yang membutuhkan waktu hingga 3 bulan untuk menghabiskan stok solar B40.

“Pertamina perlu berapa bulan menyelesaikan stok B40? Nah, jawabannya adalah dua bulan. Untuk yang BBM yang lain kan ada  34 badan usaha blending-nya itu memerlukan waktu tiga bulan. Makanya, tertulis di kepmen kan ada masa transisi itu,” jelasnya.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan peluncuran B50 pada Kamis (9/7/2026) di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat.

Peresmian mandatori B50 turut dilakukan secara simbolis di 5 daerah yang mewakili 5 industri pengguna a.l. sektor pertambangan di Kutai Timur, sektor kereta api di Yogyakarta, sektor kapal laut di Cirebon, industri alat pertanian di Semarang, dan sektor distribusi di terminal BBM Surabaya.

Berdasarkan penjelasan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, B50 diprediksi membutuhkan FAME sebesar 16,7—18 juta kiloliter (kl). Sementara itu, kebutuhan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) untuk B50 diprediksi mencapai 15,2—16,3 juta ton.

Untuk itu, Bahlil nenegaskan Indonesia bakal mulai menyetop impor solar. Alasannya, dari total konsumsi solar sebesar 38—40 juta kl, Indonesia mengimpor sekitar 4 juta kl solar per tahun dan saat ini bisa semakin menyusut gegara B50.

“Kami laporkan Bapak Presiden bahwa untuk solar, total konsumsi kita Bapak itu rata-rata di angka 38 juta sampai dengan 40 juta kiloliter solar per tahun. Awalnya kita itu masih impor kurang lebih sekitar 3 sampai 4 juta kiloliter per tahun. Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali,” ujar Bahlil dalam kesempatan itu.

Di sisi lain, implementasi B40 bakal menghemat devisa Rp133,3 triliuan dan diperkirakan dapat meningkat hingga Rp170 triliun seiring berlakunya B50.

Selain itu, B50 diperkirakan meningkatkan nilai tambah CPO dari Rp20,92 triliun menjadi sekitar Rp23,49 triliun, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO₂ pada 2026.

Adapun, PT Pertamina Patra Niaga menyatakan kesiapan 126 terminal BBM untuk dapat menyalurkan BBM campuran solar dan bahan bakar nabati berbasis sawit 50% atau biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026.

“Seluruh terminal BBM Pertamina Patra Niaga yang berjumlah 126 unit telah siap mendistribusikan B50 mulai 1 Juli 2026,” tutur Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga (PPN) Roberth MV Dumatubun saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).

Nantinya, B50 akan didistribusikan ke seluruh SPBU dan agen penyalur minyak solar (APMS) milik Pertamina melalui produk Biosolar dan Dexlite secara bertahap sesuai dengan arahan Kementerian ESDM.

Roberth mengatakan, sebagai awalan, perseroan akan mendistribusikan B50 sebanyak 37,92 juta liter B50 pada 1 Juli 2026.

Dia juga menambahkan ke depannya, PT PPN akan menyalurkan B50 hingga mencapai 87,27 juta liter per hari untuk skala nasional.

Dalam perkembangannya, Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menjelaskan, pada tahap awal atau tahap transisi dari B40 ke B50, perseroan menyalurkan B50 ke beberapa wilayah di antaranya Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Kota Balikpapan, hingga Kota Makassar.

Distribusi awal ini dilakukan melalui 29 terminal BBM dari total 126 terminal BBM milik Pertamina.

“Sebanyak 29 dari 126 terminal Pertamina sudah mulai mendistribusikan B50 mulai 1 Juli 2026 sesuai ketetapan dari pemerintah. Sementara itu, 29 terminal BBM ini mencakup sebagian besar di Sumatra dan Pulau Jawa, Balikpapan dan Makassar,” jelasnya saat dihubungi, Rabu (8/7/2026).

(azr/wdh)

No more pages