Logo Bloomberg Technoz

Kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang mendorong jatuhnya harga minyak mentah dan bensin dalam beberapa pekan terakhir, setelah sempat meroket akibat pecahnya perang. Meskipun dunia usaha masih harus menghadapi tekanan biaya di sektor lain, pelonggaran harga energi ini—ditambah dengan daya beli konsumen yang tangguh—memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan untuk melanjutkan rencana ekspansi tenaga kerja mereka.

Steve Miller, Ketua Komite Survei Bisnis Jasa ISM, dalam konferensi pers bersama awak media menyebutkan bahwa masifnya perekrutan tenaga kerja terkait penyelenggaraan Piala Dunia kemungkinan besar turut menjadi penyumbang utama di balik melonjaknya indeks ketenagakerjaan tersebut.

Di lain pihak, data resmi pemerintah yang dirilis pekan lalu justru menunjukkan potret ketenagakerjaan yang sedikit berbeda. Data non-farm payrolls (NFP) AS dilaporkan tumbuh melambat pada bulan Juni, setelah sempat mencatatkan kenaikan yang kuat dalam tiga bulan berturut-turut sebelumnya.

Laporan ISM bulan Juni mencatat ada 14 sektor industri yang sukses membukukan pertumbuhan, dipimpin oleh sektor seni dan hiburan, transportasi dan pergudangan, serta sektor akomodasi dan layanan makanan. Sebaliknya, empat sektor industri tercatat mengalami kontraksi, dengan penurunan terdalam terjadi pada sektor pertanian serta jasa pendidikan.

Komentar dari sejumlah sektor industri

"Kami masih menghadapi kenaikan harga akibat konflik di Teluk Persia melalui meningkatnya biaya bahan bakar diesel dan kenaikan harga bahan baku kemasan berbasis resin. Dampak terbesar baru akan terasa pada kuartal ketiga 2026, tetapi kami sudah mulai merasakannya sekarang. Para pemasok secara agresif berupaya meneruskan kenaikan harga kepada pelanggan." — Akomodasi & Jasa Makanan

"Selain persoalan yang sudah diketahui terkait manufaktur semikonduktor, kini muncul kekhawatiran mengenai ketersediaan memori yang secara signifikan memengaruhi pola pembelian produsen peralatan asli (OEM). Hal itu berdampak pada ketersediaan barang dan memengaruhi keputusan pembelian perusahaan kami, termasuk berapa lama kami mempertahankan aset yang ada, seberapa sering kami melakukan pembaruan, dan bagaimana kami menyusun kontrak pemeliharaan." — Keuangan & Asuransi

"Meski menghadapi tantangan ekonomi seperti inflasi yang masih tinggi, jumlah pasien dan aktivitas bisnis secara keseluruhan tetap kuat, terutama tercermin dari kinerja pendapatan yang sangat baik... Kondisi tenaga kerja stabil karena kami terus merekrut pegawai tetap dan prospek ke depan masih positif. Seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah, kami mulai mendengar adanya potensi kenaikan harga barang, meski dampaknya belum terlihat. Kenaikan biaya akan menjadi perhatian utama pada kuartal berikutnya." — Layanan Kesehatan & Bantuan Sosial

"Permintaan tetap kuat untuk proyek infrastruktur, lingkungan, dan ketahanan. Namun, proses pengadaan masih menghadapi tekanan akibat inflasi biaya tenaga kerja, keterbatasan kapasitas pemasok, serta kompleksitas regulasi, khususnya di California dan wilayah lain dengan biaya tinggi." — Jasa Profesional, Ilmiah & Teknis

"Bisnis berjalan sangat baik pada periode yang biasanya kurang ramai. Harga stabil, tingkat tenaga kerja sesuai harapan, dan rantai pasok berjalan lancar tanpa kendala." — Perdagangan Ritel

Indikator persediaan barang, yang melonjak pada Mei, turun tajam pada Juni. Miller mengatakan penurunan tersebut menunjukkan perusahaan tidak lagi menimbun barang untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok akibat perang. Di sisi lain, indikator pesanan yang belum terselesaikan justru meningkat.

Miller juga menyebut responden semakin jarang menyinggung harga produk minyak bumi. Namun, tarif impor masih menjadi persoalan yang sering dikeluhkan. Ia juga mencatat adanya peningkatan jumlah komoditas yang dilaporkan mengalami kelangkaan sepanjang Juni.

"Seluruh komoditas yang mengalami kelangkaan pada Juni merupakan bahan yang dibutuhkan untuk pembangunan pusat data (data center)," ujar Miller.

(bbn)

No more pages