Perubahan persyaratan (covenant) tersebut berkaitan dengan fasilitas kredit berjangka senior Rp3,1 triliun yang diperoleh perseroan pada 2024 untuk membiayai belanja modal, dengan opsi penambahan fasilitas hingga Rp775 miliar.
Bloomberg Technoz mencoba menghubungi Presiden Direktur PTRO Michael dan Sekretaris Perusahaan PTRO Anto Broto ihwal pelonggaran rasio utang kepada kreditur sindikasi itu. Hanya saja, permintaan konfirmasi tidak ditanggapi sampai berita tayang.
Adapun sampai akhir Maret 2026, PTRO telah menarik pinjaman sebesar Rp2,76 triliun, atau sekitar 89% dari plafon awal, dan fasilitas tersebut akan jatuh tempo pada 23 September 2032.
Posisi Utang
Laporan keuangan juga menunjukkan beban utang perseroan masih cukup besar, di mana saldo pinjaman jangka panjang Petrosea mencapai US$612,49 juta per 31 Maret 2026, naik dari US$605,08 juta pada akhir 2025.
Pinjaman tersebut antara lain berasal dari sindikasi BNI-Mandiri sebesar US$172,36 juta, sindikasi BNI sebesar US$62,72 juta, Bank Mandiri sebesar US$53,57 juta, serta sejumlah fasilitas dari BCA dan kreditur lainnya.
Di sisi lain, kenaikan utang ikut mendorong lonjakan beban bunga. Sepanjang kuartal I 2026, beban bunga dan keuangan mencapai US$17,31 juta, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan US$9,11 juta pada periode yang sama tahun lalu. Beban bunga atas pinjaman bank dan pinjaman jangka panjang sendiri mencapai US$11,01 juta.
Meski demikian, Petrosea masih mampu mencatat pertumbuhan kinerja operasional. Pendapatan naik menjadi US$284,13 juta dari US$154,22 juta pada kuartal I-2025, sedangkan laba kotor meningkat menjadi US$36,69 juta dari US$16,10 juta.
Namun, kenaikan beban bunga dan biaya keuangan membuat laba sebelum pajak hanya sebesar US$1,71 juta, dengan laba bersih periode berjalan mencapai US$1,08 juta.
Mengutip angka-angka dari laporan keuangan PTRO yang berakhir Maret 2026, perseroan telah mendekati batas rasio utang yang ditetapkan dalam covenant terbaru dengan BMRI dan BBNI. Malahan, rasio utang terhadap ekuitas telah melewati covenant awal di level 2,5 kali.
Adapun, rasio utang terhadap ekuitas PTRO belakangan berada di level 2,87 kali. PTRO mencatat ekuitas sebesar US$306,55 juta sampai periode kuartal I-2026, sementara itu total utang berbunga perseroan mencapai US$881,26 juta.
Sementara itu, rasio lancar atau current ratio PTRO berada di level 1,29 kali sesuai dengan persyaratan yang diajukan BBNI dan BBMRI untuk mempertahankan rasio lancar tidak kurang dari 1 kali.
Di sisi lain, rasio pinjaman bersih terhadap modal atau gearing ratio PTRO mencapai 262% per 31 Maret 2026, lompat dari posisi rasio periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 253%. Posisi ekuitas PTRO cenderung susut sementara total pinjaman bersih meningkat secara tahunan.
(cpa/naw)






























