Sementara dari sisi eksternal, rupiah masih menghadapi ancaman keperkasaan dolar AS. Pada pukul 08:13 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 003% ke 100,886.
Dalam sebulan terakhir, Dollar Index masih mencatat kenaikan hampir 1%.
Pasar mengantisipasi kebijakan bank sentral AS Federal Reserve yang sepertinya akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama (higher for longer). Dot plot terbaru The Fed menunjukkan bahwa suku bunga acuan sepertinya akan naik setidaknya sekali tahun ini.
“Latar belakang di mana suku bunga akan higher for longer, risiko resesi yang rendah, kecemasan terhadap kebijakan fiskal AS, dan kenaikan suku bunga acuan di Jepang akan memberi tekanan terhadap mata uang Asia,” tulis catatan Goldman Sachs, sebagaimana dikutip dari Bloomberg News.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah masih berisiko melemah pada perdagangan hari ini. Dengan target pelemahan menuju Rp17.980/US$ sampai dengan Rp18.000/US$.
Level selanjutnya pelemahan berharap tertahan di Rp18.050/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah mengonfirmasi tren bearish. Apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka mata uang Nusantara kemungkinan menuju Rp18.100/US$.
Namun kalau rupiah memberikan tanda-tanda menguat, maka resistance terdekat dapat menuju Rp17.900/US$. Sementara gerak resistance di antara Rp17.800/US$ sampai dengan Rp17.700/US$.
(aji)





























