Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: PFII Harus Jadi Solusi Devisa RI yang Mengalir ke LN

Pramesti Regita Cindy
05 July 2026 20:00

Cadangan Devisa Indonesia Turun Lagi, April 2026 Sebanyak US$146,2 Miliar (Diolah)
Cadangan Devisa Indonesia Turun Lagi, April 2026 Sebanyak US$146,2 Miliar (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rencana pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dinilai perlu diarahkan untuk mengatasi persoalan keuangan nasional terlebih terkait menjaga devisa hasil ekspor, tabungan residen, dan dana investasi tidak terus mengalir ke pusat-pusat keuangan luar negeri.

Sebab, menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, keberhasilan PFII tidak boleh hanya diukur dari banyaknya modal asing yang masuk, melainkan dari kemampuan Indonesia menjaga agar perputaran dana valuta asing tetap berada di dalam sistem keuangan domestik.

"Selama dollar loop lebih banyak terjadi di luar negeri, likuiditas valas domestik akan tetap tipis dan nilai tukar menjadi lebih rentan terhadap gejolak global," tutur Fakhrul dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).


Lebih lanjut, Fakhrul bilang tantangan ini tak hanya dihadapi oleh Indonesia saja. Korea Selatan, kata dia, juga menghadapi persoalan serupa, sehingga terus melakukan reformasi pasar valuta asing dan pengembangan Seoul sebagai pusat keuangan internasional agar aktivitas keuangan global dapat lebih banyak dilakukan dari dalam negeri.

Sehingga, sejalan dengan ini, menurutnya, pembahasan Rancangan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (RUU PFII) menjadi momentum untuk membangun ekosistem keuangan yang mampu mempertahankan likuiditas valuta asing di dalam negeri.