Data yang berada di atas ekspektasi ini menunjukkan bahwa pemberlakuan tarif dagang serta guncangan energi akibat konflik di Timur Tengah gagal membendung ambisi Vietnam untuk mengejar target pertumbuhan dua digit pada tahun 2026. Sinyal positif lainnya terlihat dari total nilai investasi asing langsung (FDI) yang terdaftar di Vietnam hingga akhir Juni, yang sukses menyentuh angka US$34,65 miliar atau melesat 61% dibandingkan setahun lalu.
Bank Sentral Vietnam pada hari Kamis menyatakan akan terus memperluas akses penyaluran kredit dengan memprioritaskan sektor-sektor industri yang berorientasi pada pertumbuhan, sembari tetap mewaspadai potensi tekanan inflasi ke depan.
Vietnam sejauh ini tetap menjadi negara eksportir kunci untuk berbagai komoditas, mulai dari alas kaki hingga komponen mesin. Kendati kebijakan tarif dagang tahun 2025 serta guncangan energi tahun ini sempat menguji ketahanan model ekonomi mereka, data hari Jumat ini mengindikasikan bahwa kerja keras pemerintah untuk memacu pertumbuhan mulai membuahkan hasil.
Meski demikian, otoritas terkait pada pekan lalu sempat menyatakan bahwa Vietnam masih "menghadapi banyak tantangan" untuk bisa mengamankan target pertumbuhan tahun 2026 yang dipatok minimal 10% tahun ini. Perdana Menteri Le Minh Hung dilaporkan telah menginstruksikan seluruh kementerian dan bank sentral untuk menjalankan perluasan kebijakan fiskal dan moneter secara terarah serta terfokus demi menopang pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah Vietnam kini membidik pertumbuhan sebesar 11,9% pada paruh kedua tahun 2026 demi merealisasikan target keseluruhan tahun sebesar 10%. Adapun di sepanjang semester pertama tahun ini (Januari-Juni), perekonomian Vietnam tercatat sudah berekspansi sebesar 8,18%.
Di sisi lain, inflasi indeks harga konsumen (IHK) Vietnam merangkak naik 4,69% secara tahunan pada bulan Juni, melandai dibandingkan posisi bulan Mei yang sempat menyentuh 5,60%. Pemerintah sendiri menargetkan untuk membatasi inflasi di level 4,5% tahun ini, meskipun bank sentral sebelumnya sempat memproyeksikan inflasi bisa melejit hingga 5,5%.
Sebagai salah satu raksasa manufaktur baru, Vietnam sukses membukukan surplus perdagangan sebesar US$75,3 billion dengan Amerika Serikat (AS) dalam enam bulan pertama tahun ini, mencerminkan kenaikan 21,3% dari periode yang sama tahun lalu. Tahun lalu, Vietnam menempati peringkat ketiga sebagai negara penyumbang defisit perdagangan terbesar bagi AS—hanya berada di belakang China dan Meksiko—sebuah kondisi yang kian menegaskan masifnya pergeseran rantai pasok global keluar dari China.
(bbn)































