Logo Bloomberg Technoz

Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli dan permintaan pasar sedang melemah, terutama di tengah kenaikan harga. "Pada saat yang sama, tekanan eksternal masih sangat kuat, seiring ketidakpastian global, perlambatan di sejumlah pasar utama, dan dampak tensi geopolitik terhadap perdagangan serta rantai pasok."

Kedua, tekanan biaya produksi yang masih teramat tinggi. Apindo mencatat berdasarkan laporan PMI, biaya input naik ke level tertinggi kedua sejak survei tersebut dimulai pada 2011. 

Dengan demikian, kenaikan harga bahan baku, energi, gangguan rantai pasok, serta volatilitas nilai tukar rupiah turut menjadi faktor yang memberikan tekanan langsung terhadap struktur biaya industri manufaktur.

"Kondisi ini cukup berat bagi dunia usaha, karena sebagian besar kebutuhan bahan baku dan barang antara industri nasional masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah dan harga input global meningkat, biaya produksi industri manufaktur ikut terdorong naik," jelas Shinta.

Lebih lanjut, Shinta mengatakan bahwa meningkatnya ketidakpastian usaha juga kian membuat pelaku industri semakin berhati-hati dalam menjalankan bisnisnya.

Hal ini tercermin dari penurunan pembelian input dan penyesuaian tenaga kerja yang dalam laporan PMI disebut terjadi pada laju tercepat dalam hampir lima tahun.

"Artinya, kontraksi ini tidak hanya terjadi di level angka indeks, tetapi dikhawatirkan sudah mulai tercermin dalam keputusan operasional perusahaan."

Oleh karena itu, mode bertahan dan penyesuaian lebih banyak diterapkan oleh pelaku industri saat ini. Lebih jauh, hari ini perusahaan cenderung menjaga arus kas, menyesuaikan level produksi dengan permintaan yang melemah.

Dunia usaha juga mengurangi pembelian input, mengelola persediaan secara lebih hati-hati, serta menunda sebagian ekspansi yang belum mendesak.

Shinta menambahkan bahwa tekanan paling besar dirasakan oleh sektor manufaktur yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, energi, dan pasar ekspor. Namun sebaliknya, industri yang lebih berorientasi pada pasar domestik dan memiliki kandungan lokal lebih tinggi dinilai relatif lebih resilien, meski tetap menghadapi tantangan berupa tingginya biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat.

Aktivitas Manufaktur Kontraksi

Diberitakan sebelumnya, aktivitas manufaktur Indonesia pada Juni mengalami kontraksi. Penurunan permintaan menjadi penyebab. Pada Rabu (1/7/2026), S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur yang diukur dengan PMI untuk periode Juni ada di 46,9. Turun dari posisi Mei yang sebesar 50.

PMI di bawah 50 menandakan aktivitas yang mengalami kontraksi, bukan ekspansi. Skor PMI 46,9 menjadi yang terendah dalam setahun terakhir.

"Permintaan baru (new orders) mengalami penurunan terdalam sejak April tahun lalu. Beban kerja yang menurun ikut menyebabkan penurunan pembelian bahan baku dan penciptaan lapangan kerja," ungkap keterangan tertulis S&P Global.

Dari sisi harga, terjadi kenaikan yang substansial. Biaya input mengalami lonjakan tertinggi sejak September 2013. Sebagai respons, dunia usaha pun menaikkan harga produk dengan laju tercepat dalam hampir 13 tahun.

Permintaan juga tercatat turun cukup tajam. New orders turun untuk kali pertama dalam tiga bulan, dengan laju tercepat dalam setahun terakhir. Dunia usaha mengungkapkan bahwa ini terkait dengan penurunan daya beli konsumen, akibat harga yang melambung tinggi.

(prc/wep)

No more pages