Logo Bloomberg Technoz

“Karena ada penurunan harga dari saham BMRI dan BBRI itu memengaruhi posisi neraca kita, untuk alasan yang sama untuk posisi AUM,” kata Eddy.

Sejak berdiri akhir 2020, lembaga pengelola investasi milik pemerintah itu berhasil membukukan pertumbuhan AUM yang impresif.

INA mengelola AUM sekitar Rp87 triliun sampai akhir 2021. Posisi AUM itu kemudian naik 25,29% ke level Rp109,9 triliun pada akhir 2022, sebelum akhirnya mencapai level tertingginya Rp147,7 triliun pada 2023. Hanya saja, pertumbuhan AUM itu belakangan terlihat melambat. 

BMRI dan BBRI

Dua saham bank pelat merah ini menyumbang 52,4% terhadap keseluruhan aset INA per akhir 2025.

Nilai aset saham BMRI dan BBRI sebesar Rp58,2 triliun, mengambil porsi separuh dari keseluruhan aset INA per akhir 2025 sebesar Rp110,09 triliun.

Adapun, nilai wajar aset dua saham bank milik negara itu susut Rp6,79 triliun dibandingkan posisi tahun 2024. Saat itu, nilai wajar untuk kepemilikan sebagian saham BMRI dan BBRI mencapai Rp64,99 triliun.

Selama dua tahun terakhir INA mencatat kerugian yang belum direalisasi atas penurunan nilai saham BMRI dan BBRI mencapai Rp18,46 triliun.

Dari lantai bursa, saham BMRI telah merosot 25,29% dan BBRI minus 27,05% tahun ini seiring dengan tren koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Sebelumnya, INA menghimpit saham BMRI dan BBRI sebagai bagian penyertaan modal pemerintah secara bertahap pada 2021 lalu.

INA mendapat suntikan modal awal dari negara sebesar Rp15 triliun pada Februari 2021. Suntikan modal susulan sebesar Rp15 triliun diberikan pada 12 November 2021.

Sementara itu, INA mendapat saham BMRI dan BBRI dari pengalihan atau inbreng sebagian saham Seri B milik pemerintah paling banyak Rp45 triliun pada periode yang sama. INA menguasai 8% saham BMRI dan 3,63% saham BBRI. 

Di sisi lain, penurunan nilai aset pada saham BMRI dan BBRI itu belakangan bisa diimbangi dengan kenaikan investasi pada subholding INA.

Mengutip laporan keuangan yang berakhir 2025, investasi INA pada subholding mencapai Rp20,26 triliun atau naik 32,39% dibandingkan dengan posisi investasi tahun sebelumnya sebesar Rp13,7 triliun.

Realisasi investasi INA juga belakangan tumbuh signifikan. Investasi INA bersama dengan rekanan investasi mencapai Rp74,5 triliun pada akhir 2025, naik sekitar 6 kali lipat dari posisi investasi 2021 sebesar Rp12,1 triliun.

(naw)

No more pages