Logo Bloomberg Technoz

Pakta Israel-Lebanon Terancam Gagal Usai Penolakan Hizbullah

News
01 July 2026 11:30

Houthi kibarkan bendera Hizbullah saat protes atas serangan Israel ke Lebanon pada 27 September di Sana'a, Yaman. (Mohammed Hamoud/Getty Images)
Houthi kibarkan bendera Hizbullah saat protes atas serangan Israel ke Lebanon pada 27 September di Sana'a, Yaman. (Mohammed Hamoud/Getty Images)

Dana Khraiche - Bloomberg News

Bloomberg, Kesepakatan damai terbaru antara Israel dan Lebanon kini menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Hal ini terjadi setelah Hizbullah bersumpah pada pekan ini untuk menggagalkan implementasi perjanjian tersebut.

Kerangka kesepakatan yang ditandatangani di Washington tersebut merinci rencana penarikan pasukan Israel secara bertahap dari wilayah Lebanon selatan. Namun, langkah ini baru akan dilakukan setelah adanya "pelucutan senjata yang terverifikasi terhadap kelompok bersenjata non-negara"—sebuah frasa yang merujuk langsung kepada Hizbullah. Nantinya, tentara resmi Lebanon dijadwalkan masuk ke wilayah-wilayah yang ditinggalkan Israel untuk mengambil alih kendali keamanan.


Perjanjian yang dimediasi oleh AS ini merupakan kesepakatan pertama yang berhasil dicapai oleh Israel dan Lebanon sejak tahun 1983. Kendati demikian, pakta serupa pada masa lalu akhirnya runtuh akibat adanya penolakan keras dari berbagai faksi di dalam negeri Lebanon, sebuah negara yang memang terbelah dalam berdasarkan garis politik dan agama.

Laksamana Brad Cooper dari Komando Pusat AS (US Central Command) saat ini sudah berada di Lebanon dan telah melangsungkan pertemuan dengan Presiden Joseph Aoun serta komandan tentara Lebanon, Rodolphe Haykal, untuk membahas eksekusi rencana tersebut. Kesepakatan ini sendiri berkaitan erat dengan perjanjian damai terpisah antara AS dan Iran, mengingat Teheran sebelumnya menegaskan bahwa Israel harus menghentikan serangannya terhadap Hizbullah sebelum kesepakatan final dapat dicapai.