Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi, dalam beberapa hari terakhir, perusahaan tersebut telah kehilangan dua staf terkemuka, yaitu peraih Nobel John Jumper yang pindah ke Anthropic dan peneliti andalan Noam Shazeer yang bergabung dengan OpenAI.

Kepindahan mereka mengguncang para investor dan menimbulkan keraguan baru mengenai kemampuan Google untuk bersaing dalam perlombaan sengit untuk mengembangkan model yang lebih baik.

Rentetan kejadian ini menyoroti tekanan yang dihadapi Google dari dua perusahaan rintisan yang berada di ambang go public, yang menawarkan kesempatan kepada karyawan—bahkan yang berpenghasilan tinggi di perusahaan Big Tech—untuk meraih keuntungan finansial yang langka dengan bergabung sebelum IPO.

Setidaknya dalam satu kasus, kepergian seorang karyawan Google tampaknya juga didahului oleh perubahan prioritas terkait alokasi sumber daya komputasi yang langka, sebuah masalah yang telah mendorong karyawan lain untuk meninggalkan perusahaan sepenuhnya.

Tak lama sebelum Shazeer mengumumkan rencananya untuk bergabung dengan OpenAI, daya komputasi yang semula dialokasikan untuk salah satu proyeknya dialihkan ke tim Google DeepMind yang berbasis di London, menurut dua orang yang mengetahui masalah ini.

Langkah tersebut diambil dalam upaya meningkatkan kolaborasi antar tim dan merampingkan pekerjaan Google dalam tahap pre-training, yaitu fase awal pengembangan AI di mana model-model belajar dari kumpulan data yang sangat besar, kata kedua orang tersebut.

Adler, Pritzel, Jumper, dan Shazeer tidak menanggapi permintaan komentar. Anthropic menolak memberikan komentar. 

Juru bicara Google mengatakan bahwa perusahaan tetap yakin dengan posisinya di pasar talenta AI dan mengutip pernyataan CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, awal pekan ini.

“Ada banyak pergeseran talenta di antara semua laboratorium terkemuka dan kami berhasil mendapatkan bagian yang adil dari talenta terbaik. Kami memiliki tim peneliti yang jauh lebih besar dan lebih luas dibandingkan laboratorium mana pun di luar sana,” kata Hassabis dalam sebuah acara di Cannes.

“Ini adalah pasar yang sangat kompetitif saat ini, yang paling kompetitif yang pernah ada dalam industri teknologi.”

Perjalanan karier Shazeer menjadi cerminan dari persaingan sengit untuk merebut talenta yang telah menjadi ciri khas lanskap AI. 

Setelah ikut menulis paper terkait penting yang membantu memicu ledakan AI, ia meninggalkan Google pada tahun 2021 untuk mendirikan Character.AI, sebuah startup chatbot, hanya untuk kembali bergabung dengan perusahaan tersebut pada tahun 2024 sebagai bagian dari kesepakatan lisensi yang tidak biasa yang menilai perusahaannya US$2,5 miliar.

Setelah kembali ke Google, Shazeer ikut memimpin pengembangan model AI andalan perusahaan, Gemini. Sebelum kepergiannya, ia juga telah mengerjakan arsitektur AI baru, kata dua orang sumber. Arsitektur tersebut masih didasarkan pada transformer, sebuah teknik yang diperkenalkan oleh Shazeer dan rekan-rekannya pada tahun 2017 dan telah menjadi landasan pengembangan AI sejak saat itu, namun arsitektur tersebut telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, kata salah satu sumber. 

Shazeer merupakan sosok yang sekaligus dikagumi dan memicu perdebatan di dalam Google, menurut karyawan saat ini dan mantan karyawan. Komentarnya di Google mengenai identitas transgender dan konflik Gaza memicu kontroversi di kalangan sebagian karyawan, kata dua orang tersebut.

Sementara itu, Jumper telah muncul sebagai wajah dari upaya AI Google yang paling ambisius usai memenangkan Hadiah Nobel atas penelitian bersejarah yang menggunakan AI untuk memprediksi pelipatan protein. Adler dan Pritzel, yang keduanya akan bergabung dengan Jumper di Anthropic, bekerja bersamanya dalam penelitian tersebut.

Anggota penting tim Jumper yang terlibat dalam penelitian pelipatan protein telah hengkang dari Google DeepMind dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa di antaranya telah pindah ke Isomorphic Labs, sebuah perusahaan spin-off Alphabet yang bergerak di bidang pengembangan obat yang dirancang oleh AI, menurut seorang sumber yang mengetahui masalah ini. 

Anthropic, yang bersaing sekaligus bermitra dengan Google, telah secara agresif merekrut talenta dari raksasa teknologi tersebut. Insinyur DeepMind hampir 11 kali lebih mungkin pindah ke Anthropic daripada sebaliknya, menurut analisis industri tahun 2025 dari firma modal ventura SignalFire.

Sama seperti Google, startyp di balik model AI Claude ini sedang menjajaki aplikasi di bidang ilmu hayati dan perawatan kesehatan dalam upaya memperluas pemanfaatan teknologinya. Anthropic baru-baru ini menggalang putaran pendanaan baru dengan valuasi US$965 miliar, melampaui OpenAI, dan sedang mempertimbangkan untuk go public secepatnya pada musim gugur ini.

Para peneliti AI di Inggris, tempat pimpinan DeepMind, kerap kali terikat perjanjian non-kompetisi yang panjang, yang dapat ditegakkan berdasarkan hukum Inggris. Menurut seorang sumber yang mengetahui masalah ini, Jumper kemungkinan besar baru akan mulai bekerja di Anthropic tahun depan.

Peneliti lain, Arthur Conmy, menulis di X pada hari Rabu bahwa ia akan bergabung dengan Anthropic untuk menangani keamanan AI. Selama bekerja di DeepMind, Conmy menjabat sebagai insinyur riset senior yang berkontribusi pada model Gemini 2.5 serta pemrograman AI, menurut profil LinkedIn-nya.

(bbn)

No more pages