Logo Bloomberg Technoz

Google Jatuh Pasca Serangkaian Ilmuwan Pentingnya Memilih Pergi

Muhammad Fikri
06 August 2026 15:30

Jeff Dean, Eks Chief Scientist yang pilih mundur dari Google Alphabet.
Jeff Dean, Eks Chief Scientist yang pilih mundur dari Google Alphabet.

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ilmuwan AI yang membangun Google dalam puluhan tahun terakhir memilih pergi meninggalkan perusahaan, dengan kabar terbaru adalah Jeff Dean, sosok penting yang terakhir berperan sebagai Chief Scientist di Alphabet Inc. Saham perusahaan lanjut jatuh 4%. Perombakan besar-besaran lantas menimbulkan keraguan atas laju Google di masa depan pada saat persaingan sektor teknologi AI yang kian ketat.  

Selain Dean, tiga peneliti senior Google DeepMind, yakni Sanjay Ghemawat, Quoc Le, dan Oriol Vinyals, juga meninggalkan perusahaan untuk mendirikan startup AI bernama Discovery Loop, mengutip Bloomberg News, Kamis (6/8/2026).

Jeff Dean merupakan salah satu tokoh sentral di balik strategi AI Google. Ia bergabung pada 1999 dan berkontribusi dalam pengembangan berbagai teknologi inti perusahaan, mulai dari infrastruktur komputasi, sistem pencarian, hingga riset AI. Bersama timnya, Dean ikut mengembangkan Google Brain yang kemudian menjadi fondasi berbagai model AI Google saat ini.


Kepergian Dean terjadi di saat Google tengah menghadapi persaingan sengit dalam perlombaan AI generatif. Persaingan tersebut membuat perusahaan teknologi berlomba mempertahankan sekaligus merekrut talenta AI terbaik di dunia yang jumlahnya relatif terbatas. Hanya segelintir insinyur yang memiliki pengalaman membangun model AI berskala besar, dan selama bertahun-tahun Google menjadi rumah bagi sebagian besar talenta tersebut.

Eksodus talenta AI di Google sebenarnya telah terjadi sejak awal tahun ini. Peraih Nobel Kimia John Jumper meninggalkan perusahaan untuk bergabung dengan Anthropic, sementara peneliti AI Noam Shazeer memilih bergabung dengan OpenAI. Seorang pegawai Google yang dikutip Bloomberg bahkan menggambarkan hengkangnya para veteran AI tersebut sebagai sebuah "gempa bumi" bagi organisasi.