Saham PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) sempat tergelincir ke level Rp3.360 per saham atau susut 2,89% pada awal perdagangan sebelum akhirnya balik arah ke Rp3.560 per saham.
Tren yang sama turut diikuti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Saham kedua perusahaan itu sempat susut sekitar 2% setelah pembukaan dagang sebelum akhirnya menguat ke zona hijau.
Saham BRMS dan UNTR saat ini diperdagangkan di level Rp565 per saham Rp22.500 per saham sampai penutupan perdagangan sesi I.
Selain itu saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) ikut menguat setelah sempat merosot ke zona merah.
Kendati demikian, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) tetap tertekan di tengah tren koreksi harga emas saat ini. Saham HRTA minus 2,31% pada penutupan perdagangan pagi ini ke level Rp1.900 per saham.
PT Merdeka Gold Rersources Tbk (EMAS) juga ikut terseret pada awal perdagangan hari ini. Saham EMAS turun 0,73% ke level Rp6.775 per saham.
Sementara itu, saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) tertahan pada harga pembukaan awal di level Rp965 per saah, setelah lama terkoreksi di zona merah dengan titik terendah hari ini Rp930 per saham.
Emas Bearish
Faktor utama yang membebani harga emas saat ini adalah prospek pengetatan kebijakan moneter. Dalam konferensi pers usai rapat bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve pekan lalu, Gubernur Kevin Warsh berulang kali menegaskan komitmennya terhadap stabilitas harga.
Artinya, Warsh jelas mengutamakan stabilitas ketimbang upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Pasar pun menduga bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan tahun ini, kemungkinan dimulai pada September.
“Jika data inflasi berikutnya tidak menunjukkan perbaikan, maka The Fed sepertinya harus menaikkan suku bunga acuan pada September, atau bahkan Juli,” tulis catatan Evercore ISI, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% pada rapat Juli sudah mencapai 34,2%. Sedangkan dalam rapat September, kemungkinannya menjadi 49,7%.
Bahkan investor menilai ada peluang suku bunga acuan Negeri Paman Sam dikerek hingga 50 bps ke 4-4,25% dalam rapat Komite Pembuat Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC) September. Kemungkinannya adalah 16,7%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
Teknikal Emas
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas terbenam di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 31. RSI di bawah 30 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Sementara indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 35. Menghuni area jual (long) yang lumayan kuat.
Untuk perdagangan hari ini, harga emas kemungkinan bisa naik. Koreksi yang sudah cukup dalam bisa melahirkan peluang technical rebound.
Cermati pivot point di US$ 4.029/troy ons. Dari sini, harga emas berpotensi menguji resisten US$ 4.093/troy ons yang menjadi Moving Average (MA) 5.
Resisten lanjutan ada di rentang US$ 4.125-4.185/troy ons. Target paling optimistis ada di US$ 4.255/troy ons.
Namun kalau harga emas turun lagi, maka US$ 3.997/troy ons rasanya bisa menjadi support terdekat. Jika tertembus, maka bisa mengarah ke US$ 3.970-3.933/troy ons. Target paling pesimistis adalah US$ 3.779/troy ons.
(naw)






























