Logo Bloomberg Technoz

Kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup US$ 3.999,6/troy ons. Jatuh 2,77% dibandingkan hari sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November tahun lalu.

Harga emas pun genap turun dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, harga terpangkas lebih dari 4%.

Faktor utama yang membebani harga emas saat ini adalah prospek pengetatan kebijakan moneter. Dalam konferensi pers usai rapat bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve pekan lalu, Gubernur Kevin Warsh berulang kali menegaskan komitmennya terhadap stabilitas harga.

Artinya, Warsh jelas mengutamakan stabilitas ketimbang upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Pasar pun menduga bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan tahun ini, kemungkinan dimulai pada September.

“Jika data inflasi berikutnya tidak menunjukkan perbaikan, maka The Fed sepertinya harus menaikkan suku bunga acuan pada September, atau bahkan Juli,” tulis catatan Evercore ISI, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% pada rapat Juli sudah mencapai 34,2%. Sedangkan dalam rapat September, kemungkinannya menjadi 49,7%.

Bahkan investor menilai ada peluang suku bunga acuan Negeri Paman Sam dikerek hingga 50 bps ke 4-4,25% dalam rapat Komite Pembuat Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC) September. Kemungkinannya adalah 16,7%.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

(aji)

No more pages