Logo Bloomberg Technoz

Salah satu tren yang semakin menonjol adalah berkembangnya layanan berbasis network slicing pada jaringan 5G Standalone. Teknologi ini memungkinkan operator menyediakan kualitas layanan yang terjamin untuk berbagai kebutuhan spesifik pelanggan dengan mengalokasikan bagian jaringan secara khusus.

Jumlah layanan komersial berbasis network slicing meningkat dari 65 layanan pada laporan November 2025 menjadi 84 layanan dalam laporan terbaru. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa layanan konektivitas terdiferensiasi mulai bergerak dari tahap adopsi awal menuju komersialisasi yang lebih luas.

Chief Technology Officer Ericsson, Erik Ekudden, mengatakan perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan mengubah pola lalu lintas jaringan secara fundamental. “Dengan transisi menuju physical AI, pola lalu lintas akan berubah secara mendasar karena kita beralih dari model AI terpusat di pusat data menjadi agen AI otonom yang tersebar di perangkat, kendaraan, dan kota-kota yang terhubung melalui 5G,” ujar Ekudden.

Menurutnya, jaringan seluler kini tidak lagi hanya berfungsi menyediakan konektivitas terbaik, tetapi berkembang menjadi infrastruktur cerdas yang mampu memenuhi kebutuhan beragam aplikasi digital.

Di sisi lain, layanan Fixed Wireless Access (FWA) berbasis 5G juga semakin diminati operator sebagai strategi monetisasi baru. Saat ini, 71% penyedia layanan FWA telah menawarkan layanan melalui jaringan 5G, meningkat dari 57% pada Juni 2025 dan menjadi kenaikan tahunan terbesar dalam empat tahun terakhir.

Selain itu, 57% operator FWA kini menawarkan paket berbasis kecepatan internet, naik dari 51% pada tahun sebelumnya. Peluncuran layanan baru tercatat di sejumlah negara seperti Aljazair, Argentina, Bangladesh, Maroko, Taiwan, Turki, dan Vietnam.

Pertumbuhan penggunaan FWA 5G paling kuat terjadi di Amerika Utara, kawasan Nordik, negara-negara GCC, dan beberapa wilayah Asia. Namun pertumbuhan di Amerika Latin, Afrika, dan sebagian Asia Tenggara masih relatif terbatas meski memiliki potensi jangka panjang yang besar.

Laporan Ericsson lantas mengungkap perubahan perilaku pengguna yang semakin banyak mengunggah konten ke internet. Untuk pertama kalinya, pertumbuhan lalu lintas data uplink atau unggahan mulai melampaui downlink pada sebagian besar operator telekomunikasi.

Dari pengukuran yang dilakukan Ericsson terhadap 55 operator, sebanyak 43 operator mencatat pertumbuhan trafik uplink lebih tinggi dibandingkan downlink, bahkan, 17 operator mengalami pertumbuhan uplink lebih dari 1,5 kali lipat dibandingkan pertumbuhan downlink.

Fenomena tersebut didorong oleh meningkatnya penggunaan aplikasi komunikasi dan kolaborasi, berbagi konten buatan pengguna, serta layanan penyimpanan berbasis cloud. Ericsson memperkirakan tambahan lalu lintas yang berasal dari aplikasi AI dapat membuat trafik uplink meningkat hingga tiga kali lipat pada 2031 dibandingkan 2025.

Secara keseluruhan, lalu lintas data jaringan, baik untuk layanan seluler maupun FWA, tumbuh 22% secara tahunan pada kuartal pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh tingginya penggunaan data di India dan Amerika Utara.

Selain membahas perkembangan 5G, laporan tersebut juga menyoroti semakin intensifnya pembahasan standar 6G. Teknologi generasi berikutnya itu diperkirakan akan mendukung kemampuan sensing dan komunikasi terintegrasi, integrasi mulus antara jaringan terestrial dan satelit, serta efisiensi energi yang lebih tinggi melalui pendekatan AI-native.

Spesifikasi awal yang dapat diimplementasikan untuk 6G diperkirakan selesai pada akhir 2028 atau awal 2029, sementara layanan komersial pertama diprediksi mulai hadir sekitar 2030. Amerika Serikat, China, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara GCC diperkirakan menjadi kelompok pasar yang paling awal mengadopsi teknologi tersebut.

(mef/wep)

No more pages