Logo Bloomberg Technoz

Di balik diskusi yang rapuh ini, status keamanan Selat Hormuz dan pertempuran yang masih berkecamuk di Lebanon—di mana Israel tengah melancarkan operasi militer melawan Hizbullah yang didukung Teheran—terus membayangi meja perundingan.

Iran menyambut baik pelonggaran sanksi energi setelah bertahun-tahun menghadapi sanksi ekonomi, serta janji adanya dana rekonstruksi dan pembangunan. Meski demikian, Teheran mengisyaratkan tidak akan melepaskan pengaruhnya atas Selat Hormuz apabila Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon.

Saat ditanya wartawan pada Senin mengenai izin bagi Iran untuk menjual minyak, Trump tampak mencampuradukkan isu tersebut dengan kemungkinan pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Ketika ditanya lebih lanjut bagaimana memastikan keuntungan dari penjualan minyak tidak digunakan untuk membangun kembali kekuatan militer Iran, Trump menjawab bahwa hal tersebut “tidak seharusnya terjadi.”

“Mereka seharusnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan bagi rakyat mereka, karena saat ini rakyat mereka sangat kelaparan,” kata Trump di Gedung Putih.

Pasar global terus mencermati setiap sinyal kemajuan dalam perundingan AS-Iran. Harga minyak Brent acuan global diperdagangkan di kisaran US$77 per barel pada Senin seiring meningkatnya ekspektasi pasokan minyak Iran akan membanjiri pasar dalam waktu dekat. Iran sendiri telah meningkatkan ekspor minyak dalam beberapa hari terakhir setelah AS mencabut blokade laut yang sebelumnya menekan perekonomian Republik Islam tersebut.

Pemerintahan Trump menepis kritik terhadap kesepakatan sementara tersebut. Washington menegaskan bahwa kesepakatan itu akan memberikan manfaat bagi warga AS melalui penurunan harga energi, sekaligus memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, yang menjadi salah satu tujuan utama pemerintahan Trump.

“Semua pihak sepenuhnya memahami bahwa Iran akan menyetujui inspeksi besar-besaran terhadap persenjataan untuk memastikan ‘kejujuran nuklir’ dalam jangka panjang,” tulis Trump melalui media sosial pada Senin.

Namun, klaim mengenai terobosan terkait inspeksi nuklir masih menuai keraguan. Iran sebelumnya menyatakan bahwa isu nuklir sama sekali belum dibahas dalam perundingan dan bahwa Teheran akan berhubungan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sesuai prosedur yang berlaku. Pernyataan itu disampaikan media pemerintah IRIB yang mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Rute transit Selat Hormuz./dok. Bloomberg

Vance juga menyatakan bahwa Iran akan menggunakan dana yang dicairkan untuk membeli kedelai, gandum, dan jagung dari AS sebagai bagian dari kesepakatan. Namun, tidak ada indikasi dari pihak Iran bahwa mereka siap melakukan pembelian tersebut. Selain itu, MoU yang ditandatangani pekan lalu menyebutkan bahwa bank sentral Iran berhak menentukan pihak penerima manfaat dari aset yang dicairkan.

Ketegangan dalam perundingan terlihat jelas setelah pembahasan hampir gagal dilanjutkan pada akhir pekan lalu menyusul ancaman baru dari Trump dan pernyataan delegasi Iran yang menyebut mereka siap meninggalkan meja perundingan.

Diskusi dijadwalkan berlanjut pekan ini di resor Burgenstock, Swiss. Vance hadir bersama Jared Kushner, menantu Trump, serta utusan khusus AS Steve Witkoff. Sementara itu, delegasi tingkat teknis akan tetap berada di lokasi untuk melanjutkan pembahasan rinci, sedangkan Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf akan meninggalkan Swiss.

Pada Senin, Vance mengatakan para perunding telah “membangun mekanisme” untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka. Namun, saat ditanya apakah AS menginginkan Israel menarik pasukannya dari Lebanon selatan, ia tidak memberikan jawaban langsung.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari yang sama mengatakan para mediator telah berhasil meredakan sebagian ketegangan terkait Lebanon. Ia juga menyebut Iran mulai merasakan manfaat finansial dari kesepakatan yang dicapai pekan lalu.

Pelonggaran sanksi yang diterbitkan Departemen Keuangan AS terhadap sebagian ekspor minyak dan produk minyak Iran memang menjadi salah satu syarat utama dalam MoU tersebut.

Negara mediator, Pakistan dan Qatar, menyatakan bahwa Iran dan AS sepakat membentuk “komite tingkat tinggi” untuk mengawasi jalannya perundingan, serta sejumlah kelompok kerja yang akan membahas isu nuklir dan sanksi.

Kedua negara juga sepakat membentuk “de-confliction cell” atau mekanisme pencegahan konflik guna memastikan berakhirnya operasi militer di Lebanon. Selain itu, Iran dan AS telah membangun jalur komunikasi langsung untuk “menghindari insiden” yang berkaitan dengan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Trump menghadapi tekanan besar untuk mengakhiri perang setelah lonjakan harga energi memicu inflasi global dan menurunkan popularitas Partai Republik menjelang pemilu November mendatang.

Namun, kelompok pendukung garis keras terhadap Iran di AS dan Israel menilai MoU tersebut memberikan terlalu banyak keringanan ekonomi kepada Teheran tanpa membatasi program rudal balistik maupun dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan.

Israel sendiri tidak menjadi pihak dalam perundingan yang berlangsung di Swiss dan menolak gagasan penarikan pasukannya dari Lebanon selatan sebelum Hizbullah tidak lagi dianggap sebagai ancaman bagi komunitas-komunitas di wilayah utara Israel.

(bbn)

No more pages