Logo Bloomberg Technoz

Nasib Baru Sampah Plastik yang Dulu Tak Bernilai

Andrean Kristianto
07 August 2026 19:31

Pekerja menyelesaikan pembuatan paving blok di bengkel kerja Rebricks, Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan paving blok di bengkel kerja Rebricks, Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Tumpukan sampah plastik yang selama ini tidak memiliki nilai kini diolah menjadi paving blok. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Tumpukan sampah plastik yang selama ini tidak memiliki nilai kini diolah menjadi paving blok. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Dalam sehari, sampah plastik yang diplah sekitar 1 ton untuk dijadikan paving blok, dengan produksi yang setara sekitar 500 meter persegi.

Dalam sehari, sampah plastik yang diplah sekitar 1 ton untuk dijadikan paving blok, dengan produksi yang setara sekitar 500 meter persegi.

Dalam proses produksi, sampah plastik terlebih dahulu dicacah sebelum diolah menjadi bahan campuran paving blok. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto

Dalam proses produksi, sampah plastik terlebih dahulu dicacah sebelum diolah menjadi bahan campuran paving blok. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto

Sampah yang digunakan merupakan plastik tertolak yang tidak diterima di bank sampah, seperti bungkus mi instan, kemasan kopi, minyak goreng.

Sampah yang digunakan merupakan plastik tertolak yang tidak diterima di bank sampah, seperti bungkus mi instan, kemasan kopi, minyak goreng.

Setiap 1 meter persegi paving blok mengandung sekitar 30 persen plastik atau setara 2,5 kilogram sampah plastik (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Setiap 1 meter persegi paving blok mengandung sekitar 30 persen plastik atau setara 2,5 kilogram sampah plastik (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Setiap hari, fasilitas tersebut menerima kiriman sampah plastik yang dikirim oleh warga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Setiap hari, fasilitas tersebut menerima kiriman sampah plastik yang dikirim oleh warga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan paving blok di bengkel kerja Rebricks, Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Tumpukan sampah plastik yang selama ini tidak memiliki nilai kini diolah menjadi paving blok. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Dalam sehari, sampah plastik yang diplah sekitar 1 ton untuk dijadikan paving blok, dengan produksi yang setara sekitar 500 meter persegi.
Dalam proses produksi, sampah plastik terlebih dahulu dicacah sebelum diolah menjadi bahan campuran paving blok. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto
Sampah yang digunakan merupakan plastik tertolak yang tidak diterima di bank sampah, seperti bungkus mi instan, kemasan kopi, minyak goreng.
Setiap 1 meter persegi paving blok mengandung sekitar 30 persen plastik atau setara 2,5 kilogram sampah plastik (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Setiap hari, fasilitas tersebut menerima kiriman sampah plastik yang dikirim oleh warga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Tumpukan sampah plastik yang dulu tidak memiliki nilai kini diolah menjadi paving blok di Rebricks, Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Setiap hari, fasilitas tersebut menerima kiriman sampah plastik dari warga untuk diproses menjadi material bangunan.

“Setiap hari ada aja yang ngirim, bisa per orang, ojek online kadang pakai ekspedisi mobil,” kata Rizka, Project Asisten Rebricks, kepada Bloomberg Technoz, Jumat (7/8).

Sampah yang diolah merupakan plastik tertolak yang tidak diterima bank sampah, seperti bungkus mi instan, kemasan kopi, kemasan minyak goreng, deterjen, dan sabun mandi. Jenis sampah tersebut umumnya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) karena tidak memiliki nilai jual.

Dalam sehari, Rebricks mengolah sekitar 1 ton sampah plastik menjadi paving blok, dengan produksi yang setara sekitar 500 meter persegi. Setiap 1 meter persegi paving blok mengandung sekitar 30% plastik atau sekitar 2,5 kilogram sampah plastik yang telah dicacah.

Paving blok hasil produksi Rebricks dipasarkan dengan harga sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per meter persegi. Melalui proses tersebut, sampah plastik yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk bernilai guna.

(dre/ros)