Optimisme tersebut didasarkan pada rangkaian reformasi pasar modal yang tengah berjalan. Jeffrey menyebut berbagai aspek yang menjadi perhatian MSCI sejatinya sudah masuk dalam agenda perbaikan yang selama ini dilakukan.
Secara umum, ia menilai banyak aspek positif Indonesia yang tetap dipertahankan dalam penilaian MSCI. Sementara itu, sejumlah area yang masih memerlukan perbaikan akan terus dibenahi secara bertahap.
"Untuk poin yang dirasa perlu perbaikan, memang itu adalah bagian dari reformasi pasar modal yang sedang kita lakukan," ujarnya.
BEI juga berharap reformasi yang dijalankan dapat semakin meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Adapun reformasi pasar modal yang tengah berjalan mencakup empat fokus utama, yakni peningkatan transparansi kepemilikan saham 1%, penyediaan data investor yang lebih granular, penyempurnaan aturan free float, serta pengawasan terhadap konsentrasi kepemilikan saham tinggi.
"Perbaikan infrastruktur perdagangan sudah pasti kita lakukan. Perbaikan dari sisi peraturan akan kita lakukan, perbaikan dari sisi pengawasan juga akan terus kita lakukan," ujar Jeffrey.
Ia menambahkan, penguatan pengawasan diharapkan dapat memperbaiki penanganan praktik manipulasi pasar dan orchestrated trading, tanpa mengganggu likuiditas perdagangan di pasar saham domestik.
Selain itu, BEI akan melanjutkan komunikasi rutin dengan MSCI untuk membahas sejumlah poin yang masih menjadi perhatian, termasuk terkait ketersediaan informasi dalam bahasa Inggris.
"Kami harus optimistis karena kita sudah melakukan banyak hal. Klarifikasi dan diskusi itu rutin dilakukan, baik dari pihak MSCI mengklarifikasi ke kami, maupun sebaliknya kami mengklarifikasi ke MSCI. Itu adalah bagian diskusi rutin yang selalu dilakukan," kata Jeffrey.
(cpa/ell)































