The Fed Hawkish, Rupiah dan Mata Uang Asia Tertekan
Tim Riset Bloomberg Technoz
18 June 2026 09:09

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada sesi perdagangan Kamis (18/6/2026), menyusul menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) ke 100,23 akibat nada hawkish bank sentral Federal Reserve.
Rupiah tergerus 0,6% ke Rp17.845/US$, bersama sebagian mata uang kawasan. Selain rupiah, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, peso Filipina, baht Thailand, dolar Taiwan dan Hong Kong juga ikut melemah pada sesi perdagang hari ini.
Pelemahan mata uang kawasan dipicu oleh langkah The Fed yang menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75%. Ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama mendorong kenaikan imbal hasil aset dolar dan meningkatkan daya tarik investasi di pasar AS, sehingga menekan aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Keputusan tersebut diperkirakan akan membuat pasar mengamati potensi dampak inflasi yang muncul akibat perang AS-Iran. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap bertahan tinggi lebih lama, atau bahkan berpotensi naik lebih lanjut, sehingga mendukung penguatan dolar AS.
Analis Valas Bloomberg Economics Audrey Childe-Freeman menyebut, langkah hawkish The Fed membuat bank-bank sentral di Asia masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Dia menyebut, pelemahan dolar AS yang lebih berkelanjutan terhadap mata uang Asia masih memerlukan sikap dovish The Fed, sehingga pasasr kembali dapat memperhitungkan peluang penurunan suku bunga.






























