Logo Bloomberg Technoz

"Tanpa sinyal tersebut, ekspektasi pelonggaran moneter AS akan tetap terbatas," sebut Childe-Freeman dalam catatannya. 

Sebaliknya, dia menambahkan, jika The Fed mulai membuka ruang penurunan suku bunga, tekanan terhadap bank sentral di Asia untuk terus mengetatkan kebijakan akan berkurang. 

"Kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi mata uang kawasan, terutama negara-negara pengimpor minyak bersih seperti Korea Selatan dan Filipina, yang selama ini relatif sensitif terhadap pergerakan dolar AS dan harga energi global," katanya. 

Langkah Bank Indonesia

Di tengah sikap hawkish bank sentral AS, bank sentral Indonesia diproyeksikan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps ke 5,75% oleh para ekonom dan analis yang dihimpun dalam konsensus Bloomberg.

Jika benar-benar terjadi, sikap Bank Indonesia (BI) ini akan menggenapi langkah agresif sebelumnya, yang telah menaikkan suku bunga 75 bps dalam satu bulan terakhir. 

Meski begitu, beberapa ekonom memprediksi BI justru mempertahankan BI Rate pada posisi saat ini di 5,5% lantaran dapat berimbas pada kenaikan biaya pembiayaan (cost of fund). 

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Paredede menilai, probabilitas BI menahan suku bunga sebesar 80-90%. Sementara peluang kenaikan lanjutan sebesar 25 bps masih terbuka, meski relatif kecil, yakni sekitar 10-20%. 

Sebagai catatan, penetapan suku bunga acuan BI Rate akan kembali digelar melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Juni yang hasilnya akan diumumkan siang nanti.

(dsp/aji)

No more pages