“Namun demikian, ruang untuk pemangkasan suku bunga kemungkinan akan tetap terbatas selama rupiah masih mengalami tekanan,” tutur dia.
Ke depannya, Riefky berujar inflasi masih menghadapi beberapa tekanan peningkatan dan berpotensi naik dari level saat ini. Namun, risiko tersebut kemungkinan besar didorong utamanya oleh faktor sisi penawaran, sehingga membatasi efektivitas pengetatan moneter lebih lanjut, dan penanganan tekanan tersebut akan memerlukan koordinasi dengan lembaga pemerintah lainnya.
“Pada Juni 2026, Bank Indonesia tetap optimis bahwa inflasi dapat dijaga dalam kisaran target, meskipun risiko jangka pendek meningkat akibat tekanan pasokan pangan yang masih berlanjut serta penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green 95,” jelas Riefky.
Sementara itu, dari sisi perekonomian global ada angin segar dari kabar perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran sehingga Selat Hormuz dapat dibuka kembali. Imbasnya harga minyak diharapkan dapat turun.
Meskipun harga minyak telah turun dari puncaknya, dampak lag dari kenaikan biaya energi terhadap harga konsumen secara luas kemungkinan akan menjaga inflasi tetap tinggi dalam jangka pendek.
“Oleh karena itu, the Fed memiliki ruang yang terbatas untuk memangkas suku bunga, di mana sebagian analis memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang 2026,” terang Riefky.
Senada, Kepala Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Myrdal Gunarto memperkirakan BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 5,5%. Tekanan rupiah yang telah mereda membuat BI tidak perlu mengambil langkah agresif.
“Kebutuhan amunisi moneter BI tidak setinggi periode beberapa pekan sebelumnya, terutama untuk kebijakan amunisi moneter yang melalui intervensi pasar dengan menyerap likuiditas dari market, terutama likuiditas dari luar untuk mendapatkan suplai valas untuk keperluan ini, kebijakan intervensi moneternya,” tuturnya.
Selain itu, Myrdal menyebut inflasi juga relatif masih terkendali yakni 3,08% year on year pada Mei 2026. Menurutnya, inflasi saat ini tidak lagi menjadi concern BI khususnya imported inflation karena Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengumumkan perdamaian hingga harga minyak dunia yang turun di bawah level US$80/barel.
Myrdal menegaskan, bank sentral saat ini harus kembali pada kebijakan pro growth yakni akomodatif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif karena sebelumnya sudah memangkas BI Rate sebesar 75 bps.
“Jadi waktunya sekarang untuk BI kembali fokus pada kebijakan yang sensenya itu lebih akomodatif. Jadi kalau sekarang kami lihat BI belum ada urgensi yang untuk kenaikan BI rate lagi,” jelas dia.
Dia menekankan jika BI menaikkan suku bunga acuan dalam RDG kali ini, maka kontraproduktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
(lav)




























