Langkah The Fed yang menegaskan kembali fokusnya pada stabilitas harga dan menginsyaratkan bahwa risiko inflasi masih terlalu besar untuk diabaikan, mendorong adanya perubahan ekspektasi kenaikan yield US Treasury atau surat utang pemerintah AS. Hal tersebut mengembalikan daya tarik aset berdenominasi dolar AS.
Ketika imbal hasil bebas risiko di AS meningkat, investor cenderung mengalihkan aliran modalnya untuk masuk ke pasar keuangan AS.
Hal ini nampak jelas, sebab penguatan dolar AS kali ini tidak didorong oleh lonjakan harga energi seperti sebelumnya. Sehingga, arah kebijakan monter AS dan faktor suku bunga US Treasury masih jadi jangkar utama pergerakan pasar global.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan dibayangi sentimen eksternal. Di satu sisi, penurunan harga minyak yang semakin menjauh dari level puncaknya menjadi faktor positif karena dapat meredakan tekanan inflasi sekaligus memperbaiki prospek neraca perdagangan Indonesia.
Namun di sisi lain, menguatnya dolar AS setelah The Fed mengirimkan sinyal hawkish berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah. Ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama mendorong kenaikan imbal hasil aset dolar dan meningkatkan daya tarik investasi di pasar AS, sehingga menekan aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah berisiko melemah hari ini. Target pelemahan menuju level Rp17.800/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua tertahan di Rp17.870/US$.
Apabila menjebol kedua support tersebut dengan volume yang besar, maka rupiah kemungkinan melemah lebih lanjut menuju level Rp17.950/US$ sebagai support paling kuatnya.
Namun jika rupiah mampu menguat, maka resistance yang menarik dicermati ada pada level Rp17.700/US$ dan selanjutnya Rp17.600/US$.
(riset/aji)



























