Di samping itu, saham-saham yang menguat dan menjadi top gainers di antaranya PT Bank J Trust Indonesia Tbk (BCIC) yang melesat 35%, PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) melonjak 30%, dan PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) melejit 28,8%.
Sementara, saham-saham yang melemah dan menjadi top losers antara lain PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) yang jatuh 9,82%, PT Bank INA Tbk (BINA) ambruk 9,81%, dan PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) anjlok 9,68%.
Bursa Saham Asia lainnya turut melemah, PSEI (Filipina), Hang Seng (Hong Kong), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), dan SETI (Thailand), yang tertekan dan drop dengan masing-masing 2,11%, 0,74%, 0,1%, dan 0,06%.
Di sisi berseberangan, KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), Straits Times (Singapura), CSI 300 (China), Shenzhen Comp. (China), NIKKEI 225 (Tokyo), Topix (Jepang), SENSEX (India), Shanghai Composite (China), dan TW Weighted Index (Taiwan), berhasil menguat masing–masing 1,58%, 1,31%, 1,16%, 0,97%, 0,73%, 0,72%, 0,55%, 0,47%, 0,4%, dan 0,15%.
Bursa Saham Asia dan IHSG tersulut momentum pelemahan di Bursa Saham Amerika Serikat. Dini hari tadi waktu Indonesia, mayoritas indeks utama di Wall Street ditutup melemah.
Nasdaq Composite, dan S&P 500 yang melemah dengan penurunan 1,15%, dan 0,57%. Sedang Dow Jones Industrial Average masih menguat 0,64%.
Perhatian pasar tertuju terhadap siasat Amerika Serikat (AS) dan Iran yang tengah bersiap menandatangani secara resmi kesepakatan damai sementara. Namun, rincian kesepakatan tersebut masih belum dipublikasikan, dan menimbulkan keraguan di kalangan sejumlah pemerintah Eropa, investor energi, serta perusahaan pelayaran mengenai seberapa cepat Selat Hormuz dapat kembali beroperasi seperti sebelum perang.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) terus melandai setelah pada sesi sebelumnya amblas 15% menuju titik US$76,28 per barel, di tengah–tengah persiapan AS dan Iran untuk menandatangani pakta damai secara fisik pada Jumat nanti, para pelaku pasar terus mencari petunjuk dari otoritas mengenai dampak perang tersebut terhadap perekonomian.
Di sisi bersamaan, AS dan Iran telah berkomitmen untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran terpenting di dunia untuk pengiriman minyak dan gas alam, yang sebagian besar telah diblokir sejak kedua negara berperang pada Februari 2026.
Namun, mengembalikan lalu lintas di selat ke tingkat sebelum perang benar–benar menghadirkan tantangan yang signifikan, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Sikap kehati–hatian pasar juga tertuju terhadap rapat pertama Kevin Warsh sebagai Gubernur The Fed yang baru. Bloomberg Economics memprediksi bakal ada perubahan dalam cara Bank Sentral berkomunikasi dengan pasar, karena Warsh kemungkinan tidak akan memasukkan proyeksi pribadinya dalam “dot plot” yang selama ini menjadi acuan penting, memutus tradisi yang diterapkan oleh Jerome Powell, Janet Yellen, dan Ben Bernanke.
Investor akan mencermati berbagai petunjuk mengenai bagaimana Warsh memandang prospek inflasi. Dengan turunnya harga minyak yang memberikan sedikit kelegaan, sementara tekanan harga secara keseluruhan masih belum pasti, pelaku pasar menunggu sinyal apakah fokus The Fed akan lebih condong pada sikap sabar atau justru kewaspadaan yang lebih tinggi.
“Volatilitas mungkin masih akan bertahan dalam jangka pendek seiring pasar mengevaluasi implementasi dan daya tahan dari kesepakatan ini. Tetapi kami tetap pada pandangan kami bahwa pertumbuhan yang tangguh serta pendapatan korporasi yang kuat akan terus mendorong pasar saham bergerak lebih tinggi,” papar Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Chief Investment Office, melansir Bloomberg News.
(fad/wep)






























