Logo Bloomberg Technoz

Menurut Aida, BI berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar karena merupakan mandat terhadap BI dalam rangka menjaga stabilitas makroekonomi secara keseluruhan. Apabila nilai tukar tidak terkendali, maka otomatis BI tidak bisa menjaga inflasi. 

Aida menegaskan selama ini BI menjaga nilai tukar berdasarkan fundamentalnya. Fundamental tersebut didasari atas perkembangan neraca pembayaran yang di dalamnya terdapat neraca transaksi berjalan atau current account hingga financial account.

“Ada perbedaan inflasi dengan negara-negara mitra dan juga ada bagaimana pertumbuhan ekonomi kita. Jadi itulah yang mendasari bagaimana kami melakukan nilai tukar fundamental,” katanya. 

Aida menjelaskan nilai fundamental juga perlu terintegrasi dengan keseluruhan rencana makroekonomi. Pada saat BI mempunyai asumsi nilai tukar fundamental, BI juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi terhadap produk domestik bruto (PDB), current account serta financial account. 

“Jadi itu caranya kami dalam melakukan proyeksi ataupun perkiraan nilai tukar fundamental. Dalam pelaksanaannya tentunya nilai tukar fundamental ini akan juga dipengaruhi bagaimana persepsi pasar dan juga bagaimana indikator-indikator makroekonomi lainnya,” jelas dia. 

Aida mencontohkan indikator tersebut dipengaruhi misalnya pada Februari 2026 mulai terjadi gejolak geopolitik yang mengubah seluruh tatanan perekonomian global maupun cara pandang BI dalam melihat aliran modal asing masuk ke dalam negeri. 

Namun, Bank Indonesia terus melakukan dan berkomitmen melaksanakan hal tersebut. Tentunya dalam pelaksanaannya kami mempunyai koridor dalam memperbolehkan nilai tukar tersebut melakukan pergerakan,” ujarnya.

“Koridor ini sejalan dengan sistem nilai tukar kita yaitu [..] terkendali Ini kami perlukan dalam rangka menjaga bagaimana pergerakan tadi tetap terjaga dan terus sesuai dengan semua yang tadi sampaikan.”

Sekadar catatan, dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM & PPKF) 2027, asumsi makro nilai tukar rupiah berada di rentang Rp16.800/US$ - Rp17.500/US$. 

(lav)

No more pages