Ia menjelaskan, selama ini terdapat kondisi di mana SPPG yang melayani jumlah penerima manfaat berbeda tetap memperoleh insentif yang relatif sama. Ke depan, BGN akan menyesuaikan skema tersebut berdasarkan kondisi riil di lapangan.
Menurut Agustina, hasil refocusing penerima manfaat juga akan berpengaruh terhadap penataan jaringan SPPG. BGN membuka kemungkinan menggabungkan beberapa SPPG di wilayah tertentu apabila jumlah penerima manfaat dinilai tidak terlalu besar.
“Karena di daerah sana ternyata hanya ada sekian, kita akan menggabungkan SPPG ini dengan SPPG ini dan seterusnya. Itu proses yang pasti akan mengikuti proses refokusinya,” ujarnya.
Selain menyesuaikan jumlah penerima manfaat, BGN juga akan mengevaluasi model pemberian insentif. Ke depan, insentif tidak hanya didasarkan pada jumlah layanan yang diberikan, tetapi juga mempertimbangkan kualitas pelaksanaan program.
Agustina mengatakan sejumlah indikator akan disiapkan sebagai dasar penilaian. Di antaranya kualitas makanan yang dihasilkan, standar keamanan pangan, hingga pemenuhan standar gizi yang telah ditetapkan pemerintah.
Dengan skema baru tersebut, BGN berharap insentif dapat mendorong peningkatan kualitas layanan SPPG.
“Kita akan bikin beberapa komponen untuk penilaian, supaya tidak sekadar menghasilkan output lalu diberikan insentif, tetapi juga memperhatikan kualitas makanan dan keamanan pangannya,” kata Agustina.
Rencana perubahan tersebut akan menjadi bagian dari proses penataan program MBG yang saat ini masih terus dilakukan pemerintah, termasuk melalui refocusing penerima manfaat dan upaya efisiensi anggaran.
(dec)


























