Logo Bloomberg Technoz

Selain ICP, pemerintah juga mengusulkan target produksi siap jual atau lifting minyak dan gas bumi (migas) pada 2027 sebesar 1,536 juta hingga 1,592 juta barrel setara minyak per hari (boepd).

Angka tersebut terdiri atas lifting minyak bumi dan kondensat sebesar 602.000—615.000 barrel per hari (bopd), serta lifting gas bumi sebesar 934.000—977.000 boepd. 

Bahlil mengatakan target lifting minyak masih dapat didiskusikan untuk mencari ruang peningkatan produksi. 

"Nah, lifting untuk minyak itu di 2027 kisaran 602.000 sampai 615.000. Untuk porsi yang ini bisa kita diskusikan, mana ruang yang lebih untuk bisa kita bicarakan dalam konteks untuk meningkatkan kapasitas lifting seluruh KKKS di negara kita," ucapnya.

Sebelumnya dalam catatan Kementerian ESDM, harga rata-rata ICP pada Mei 2026 ditetapkan sebesar US$106,56/barel.

Angka tersebut mengalami penurunan sebesar US$10,75/barel dari ICP April 2026 yang mencapai US$117,31/barel.

Penurunan ICP bulan ini sejalan dengan melemahnya harga minyak mentah utama dunia, khususnya Dated Brent, yang dipengaruhi oleh meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

"Perkembangan positif ini secara umum dipengaruhi oleh perbaikan pasokan global seiring meredanya konflik geopolitik global," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman di Jakarta, dalam keterangan tertulis, Jumat (5/6/2026).

Lebih lanjut, Laode menjelaskan, sepanjang Mei 2026 pasar minyak global merespons sejumlah perkembangan yang mengindikasikan deeskalasi konflik di Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump beberapa kali menyampaikan sinyal positif terkait peluang berakhirnya konflik, serta kemajuan negosiasi dengan Iran. 

Selain itu, AS juga membatalkan rencana serangan lanjutan ke Iran dan kembali memberikan pengecualian sanksi sementara terhadap minyak Rusia yang telah berada di laut.

"Perkembangan itu menurunkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dunia dan menekan harga minyak mentah di pasar internasional," sambungnya.

Selain faktor geopolitik, penurunan harga minyak juga dipengaruhi oleh prospek permintaan global yang melemah. International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak dunia turun hingga 420.000 barel per hari menjadi sekitar 104 juta barel per hari.

Penurunan permintaan terbesar terjadi pada Triwulan II 2026 yang mencapai 2,45 juta barel per hari.

Di kawasan Asia, impor minyak juga mengalami penurunan signifikan sepanjang Februari hingga April 2026. Penurunan impor tercatat terjadi di Cina, Jepang, Korea Selatan, dan India.

Sementara itu, aktivitas pengolahan minyak mentah (crude throughput) Cina turun 5,8% secara tahunan menjadi 13,35 juta barel per hari, level terendah dalam 44 bulan terakhir.

Terhadap dinamika yang terjadi, pemerintah terus memantau perkembangan pasar energi global dan berbagai faktor yang berpotensi mempengaruhi stabilitas pasokan, serta harga energi nasional.

"Melalui pemantauan yang berkelanjutan dan langkah antisipatif yang diperlukan, pemerintah berkomitmen menjaga ketahanan energi nasional dan memastikan ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat," tegas Laode.

(smr/wdh)

No more pages