Dengan harga saham di level Rp3.110 pada perdagangan terakhir, ANTM memiliki potensi kenaikan atau return potential sebesar 61,6%.
Salah satu target harga tertinggi berasal dari UBS. UBS mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp6.050 per saham.
UBS menyebut bahwa fundamental ANTM membaik seiring peningkatan kinerja sejumlah segmen usaha. Margin kas bisnis feronikel sepanjang tahun berjalan tercatat sekitar US$2.500 per ton nikel, dengan biaya kas di bawah US$12.000 per ton nikel dan harga jual rata-rata sebesar US$14.500 per ton nikel.
UBS juga mencatat harga jual rata-rata bijih nikel saprolit mencapai US$80 per wet metric ton (wmt) pada April 2026 dan menyumbang sekitar 20% dari total penjualan bijih nikel.
Selain itu, penjualan emas pada April juga melampaui laju penjualan kuartal I/2026 seiring peningkatan fokus penjualan melalui jalur grosir.
"Kami menyukai pertumbuhan volume nikel dan emas ANTM yang kuat, fokus pada pasar domestik, serta pertumbuhan dividen yang solid," tulis UBS dalam risetnya, dikutip Senin (15/6/2026).
UBS juga menyoroti sejumlah isu kebijakan yang menjadi perhatian investor, antara lain pembentukan lembaga ekspor terpusat, pungutan ekspor, tarif royalti, dan kebijakan windfall tax. Menurut UBS, lingkungan kebijakan yang masih berubah dapat mempengaruhi prospek sektor logam nasional.
Selain itu, UBS menyebut pasokan nikel berpotensi tetap ketat. Persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tambahan pada paruh kedua tahun ini diperkirakan terbatas seiring fokus pemerintah untuk menjaga pasokan bijih nikel.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi buy terhadap ANTM dengan target harga Rp5.000 per saham, naik dari target sebelumnya Rp3.700 per saham.
Analis Phintraco Sekuritas, Vinna N. Rachmawati, memproyeksikan pendapatan ANTM mencapai Rp97,1 triliun pada 2026 atau tumbuh 14,7% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut diperkirakan berlanjut menjadi 15,8% pada 2027 dan 16,4% pada 2028.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba kotor diproyeksikan meningkat menjadi Rp15,3 triliun pada 2026 dan mencapai Rp22,2 triliun pada 2028. EBITDA juga diperkirakan mencapai Rp10 triliun pada 2026.
"ANTM menargetkan pertumbuhan jangka panjang melalui ekspansi kapasitas dan integrasi bisnis dari hulu ke hilir, terutama dalam ekosistem baterai kendaraan listrik dan aluminium," tulis Vinna dalam risetnya.
Vinna juga menyoroti sejumlah proyek yang tengah dikembangkan perseroan, di antaranya pabrik logam mulia di Gresik, proyek Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan High Pressure Acid Leach (HPAL) di Halmahera Timur, proyek hilirisasi NKA bersama Huayou, serta proyek Smelter Grade Alumina (SGA) di Mempawah.
(cpa/naw)





























