Logo Bloomberg Technoz

“Level ideal saat ini sebenarnya adalah mempertahankan BI Rate di 5,50% terlebih dahulu. Jika stabilitas rupiah masih rapuh, tambahan kenaikan maksimal 25bps ke 5,75% masih dapat dipertimbangkan,” kata Josua.

Namun, kenaikan yang terlalu agresif berisiko menekan pertumbuhan, karena biaya dana perbankan naik, bunga kredit lebih sulit turun, konsumsi melemah, investasi tertunda, dan biaya pembiayaan pemerintah ikut meningkat. Jadi, menurut Josua BI perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan keberlanjutan pertumbuhan.

“Dalam kondisi rupiah mulai menguat, BI sebaiknya tidak terburu-buru menaikkan suku bunga lagi hanya untuk mengejar penguatan jangka pendek,” katanya

Yang lebih penting, katanya adalah memastikan penguatan rupiah didukung oleh arus dana asing yang lebih sehat, bukan hanya masuk ke instrumen jangka pendek. Jika dana asing mulai masuk ke SBN tenor pendek dan menengah, pasar saham membaik, dan kebutuhan valas domestik mereda, maka tekanan terhadap BI untuk kembali menaikkan suku bunga akan berkurang.

Namun, BI tetap perlu mempertahankan sikap waspada. Penguatan rupiah saat ini belum tentu berarti tekanan sudah selesai. Rupiah masih rentan terhadap harga minyak, arah suku bunga Amerika Serikat, sentimen perang di Timur Tengah, defisit transaksi berjalan, dan kredibilitas fiskal domestik.

“Karena itu, BI perlu tetap menjaga daya tarik aset rupiah melalui instrumen pasar uang, intervensi valas yang terukur, dan komunikasi yang jelas. Suku bunga tidak harus terus dinaikkan, tetapi pesan kebijakan harus tetap tegas bahwa BI siap bertindak jika rupiah kembali tertekan,” tegasnya.

(ell)

No more pages