Pergerakan Bitcoin sudah positif 2% dalam 24 jam perdagangan terakhir namun masih belum sepenuhnya pulih jika dibandingkan dengan pergerakan sepekan dan satu bulan terakhir. Bahkan secara year to date (ytd) posisi BTC masih –28,3%.
Data terbaru inflasi Amerika Serikat (AS) sejatinya tidak cukup mendukung penguatan Bitcoin, namun nyatanya koin paling berharga di dunia ini masih bertahap di zona bullish.
Pertanyaan selanjutnya, apakah tren bullish di pasar aset digital akan bertahan lama? Griffin Ardern, salah satu pendiri manajer aset multi-aset Primal Fund mengkhawatirkan bahwa bakal ada penurunan berikutnya dan investor diminta waspada. “Kita masih jauh dari titik terendah yang sesungguhnya,” kata Griffin Ardern.
Data Checkonchain yang dipublikasi juga menerangkan bahwa pasca menyentuh posisi terendah bakal diikuti dengan momentum sideways secara perdagangan dalam tempo bulanan, dan menjadi sebuah uji kesabaran pada pemilik Bitcoin, apakah mempertahankan ataupun melepasnya.
Bear market bottoms are a process, not an event.
— _Checkonchain (@_checkonchain) June 10, 2026
First, price-sensitive investors capitulate. Then comes the harder phase: months of sideways action that slowly wear down the conviction of those who remain.
In our latest newsletter piece, @_Checkmatey_ examines the evidence… pic.twitter.com/ReSQFfqi5R
Pasar tetap menaruh perhatian pada perang AS-Iran di Timur Tengah yang kembali tinggi hingga memicu kembali kenaikan biaya energi global. Fokus selanjutnya adalah hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada pekan depan, 16-17 Juni, di era kepemimpinan Gubernur bank sentral AS baru, Kevin Warsh.
Yves Renno, Kepala Perdagangan di platform kripto Wirex, menyatakan arah pidato Warsh bakal jadi penentu, “apakah Bitcoin akan rebound ke kisaran US$68.000 hingga US$72.000 atau justru bergerak di bawah US$60.000,” dilansir dari CoinDesk.
Sebagai catatan, pelemahan Bitcoin telah mencapai puncaknya akhir pekan lalu sehingga pergerakan harga berada pada kisaran 50% dari rekor tertinggi (ATH), yang menurut Vetle Lunde dari K33 Research, menjadi kali pertama sejak akhir 2022 bahwa lebih dari 50% koin yang diperdagangkan berada di bawah harga belinya.
Kemerosotan sejatinya telah terjadi sejak Oktober lewat rentetan penjualan massal di tengah minimnya kabar positif yang mampu menahan penurunan harga. Pekan lalu pula menjadi aksi penghapusan keuntungan dari banyak pemegang Bitcoin selama masa kepresidenan Trump yang ramah kripto.
Data K33 Research mempertegas bahwa volatilitas telah melonjak ke level tertinggi dalam tiga bulan, dimana arus keluar dana pada instrumen ETF Spot Bitcoin terjadi semakin cepat.
(red/wep)
































